Istilah Gen Z tiap hari muncul. Seberapa paham kamu sama kalcernya?
Bahasa gaul jadi salah satu pertanda sebuah generasi. Di era sekarang, bahasa gaul Gen Z menjadi yang marak dipakai oleh anak=anak muda baik di sosial media atau di pergaulan nyata, gantiin bahasa-bahasa punya generasi sebelumnya.
Kamu pasti pernah terpapar sama kata-kata kaya fineshyt, flop, bruh, stonks, dan lain-lain kan? Nah, di artikel ini kita akan membahas lebih dalam soal bahasa gaul Gen Z mulai dari kata-katanya, sampai relevansinya di masyarakat luas. Udah siap?
Baca juga: Kamu Gen-Z yang Ingin Upgrade Diri? Yuk, Join BIGFAIR!
Kalo kamu tipe orang yang chronically online dan gak pernah ketinggalan tren baru, ada baiknya buat intip aplikasi MyTelkomsel Basic yang punya segudang fitur. Dari beli kuota, pulsa, paket streaming, semua yang nopang kehidupan gaulmu bisa dari sini.
Nah, kalo kamu se-hype itu, seberapa tahu kamu soal bahasa gaul Gen Z? Yuk, kita deepdive!
Generasi Z dikenal sebagai generasi yang sangat adaptif, cepat mengikuti tren, dan gemar menciptakan bahasa baru. Bahasa gaul bagi mereka bukan hanya sekadar pilihan kata, tetapi bagian dari identitas, cara bersosialisasi, dan cara mengekspresikan diri.
Bahasa gaul ini sering lahir dari budaya internet, video pendek, meme, komunitas game, hingga percakapan sehari-hari yang kemudian menyebar luas melalui media sosial.
Beberapa istilah populer antara lain:
Bahasa gaul Gen Z sering berubah cepat. Istilah yang viral hari ini bisa saja hilang minggu depan, digantikan bahasa-bahasa baru lainnya. Namun, pola utamanya selalu sama: ringkas, mudah dipakai, berirama lucu, dan mencerminkan kreativitas spontan.
Perubahan bahasa ini menunjukkan bagaimana generasi ini memandang dunia dengan POV yang lebih cair, kritis, dan eskpresif.
Baca juga: Apa itu Arti Red Flag? Yuk Kepoin Istilah Gen Z Satu Ini!
Untuk memahami Gen Z, penting melihat mereka dalam konteks sejarah generasi modern. Pembagian generasi membantu menjelaskan bagaimana perbedaan nilai, kebiasaan, dan sikap terbentuk dari peristiwa sosial, ekonomi, dan teknologi pada masa masing-masing generasi.
Berikut lima generasi utama:
Generasi yang lahir setelah Perang Dunia II. Mereka tumbuh dengan nilai stabilitas, kerja keras, dan struktur sosial yang lebih tradisional. Pada masa ini, perkembangan ekonomi cukup pesat, sehingga banyak Baby Boomers memiliki pandangan optimistis terhadap kehidupan.
Generasi yang tumbuh pada masa transisi dari dunia analog ke digital. Mereka dikenal mandiri, pragmatis, dan cukup adaptif terhadap perubahan teknologi. Generasi ini juga sering dianggap berada di antara dua dunia: tradisional milik orang tua mereka dan digital milik generasi setelahnya.
Generasi yang menyaksikan awal internet, kemunculan ponsel, hingga media sosial pertama. Mereka cenderung fleksibel, terbuka terhadap perubahan, dan menghargai kebebasan serta kreativitas.
Millennials juga menjadi saksi perubahan besar dalam pola kerja, gaya hidup, dan cara belajar.
Kelompok pertama yang benar-benar tumbuh sebagai digital native. Sejak kecil sudah terbiasa dengan smartphone, internet cepat, dan dunia digital. Mereka kreatif, kritis, dan memiliki cara komunikasi unik yang sering membuat generasi sebelumnya bingung.
Gen Z juga sangat peduli pada isu sosial dan memiliki keberanian untuk menyuarakan opini.
Generasi termuda saat ini. Mereka lahir dalam era teknologi canggih, AI, digitalisasi penuh, dan dunia yang sangat terhubung. Penggunaan gadget bagi mereka bukan pilihan, tetapi bagian dari kehidupan sejak bayi.
Pola belajar dan perkembangan sosial mereka kemungkinan akan jauh berbeda dari generasi sebelumnya.
Perbedaan antar generasi ini bukan untuk menilai mana yang “lebih baik”, tetapi untuk memahami bagaimana setiap generasi dibentuk oleh kondisi zamannya, termasuk Gen Z dengan bahasa, gaya komunikasi, dan karakter unik mereka.
Istilah “protes Gen Z” lebih merujuk pada fenomena sosial ketika generasi muda ini mengungkapkan ketidaksetujuan, keresahan, atau ketegangan terhadap sistem atau norma yang mereka anggap tidak relevan.
Gen Z lebih dikenal sebagai generasi yang gak ragu mengeluarkan uneg-uneg dan pandangannya, baik dalam lanskap sosial maupun personal. Bagi generasi di atasnya, Gen Z sering dianggap banyak protes.
Namun, ini adalah cara ekspresif mereka untuk mengutarakan pendapat dan pandangan yang seharusnya bisa dimaklumi. Protes ini bisa berupa protes sosial, kultural, ekonomi, atau sekadar gesekan dengan generasi sebelumnya.
Ada beberapa bentuk “protes Gen Z”:
Gen Z sering mempertanyakan pola pikir lama yang dianggap tidak sesuai lagi dengan realitas masa kini. Mulai dari aturan berpakaian, pola kerja kaku, standar kesuksesan, hingga pola komunikasi yang terlalu formal.
Mereka hidup di era kompetitif, serba cepat, dan penuh ekspektasi. Tekanan untuk sukses, tampil sempurna di internet, atau memenuhi standar orang lain memicu perlawanan dalam bentuk ekspresi bebas, gaya hidup santai, atau penggunaan bahasa gaul sebagai identitas pembeda.
Gen Z lebih mudah menyuarakan pendapat karena memiliki akses ke platform digital. Mereka bisa memviralkan isu, membuat kampanye online, atau ikut menyebarkan opini yang menentang ketidakadilan sosial, lingkungan, pendidikan, atau ekonomi.
Tidak jarang protes mereka dibalut humor, meme, sindiran, atau parodi. Cara ini terasa lebih luwes, tetapi tetap menyampaikan pesan kuat. Keadaan politik di Nepal menjadi salah satu gambaran kekuatan Gen Z dalam menyetir keadaan lewat cara mereka yang unik.
Lalu, semua poin di atas memunculkan pertanyaan, mengapa Gen Z sering “protes”? Jawabannya, karena mereka tumbuh di era yang penuh isu besar: krisis ekonomi, perubahan teknologi cepat, overload informasi, dan dinamika sosial yang serba rentan.
Akses informasi membuat mereka lebih kritis, sedangkan media sosial memberi mereka panggung untuk bersuara. Mereka menolak dianggap pasif dan lebih memilih menyampaikan pendapat dengan cara mereka sendiri.
Dalam kehidupan sosialnya, Gen Z punya bahasa uniknya sendiri. Salah satu istilah yang populer adalah Skiber. Kata ini merupakan gabungan dua konsep: “skip” dan “berat”.
Arti skiber sederhananya, yaitu:
“Malas melakukan sesuatu, ingin skip, atau merasa aktivitas tertentu terlalu berat untuk dijalani.”
Contoh penggunaannya:
Skiber mirip dengan kata “mager”, tetapi terasa lebih ringan dan lebih lucu diucapkan. Istilah ini menggambarkan bagaimana Gen Z mengemas emosi sederhana dalam bentuk kata kreatif yang cepat dipahami teman sebaya.
Skiber adalah contoh bagaimana bahasa gaul terus berevolusi. Hari ini viral, besok bisa ada istilah baru yang muncul. Namun, setiap istilah yang lahir selalu mencerminkan gaya hidup dan cara berpikir generasi yang menciptakannya.
Baca juga: Alasan Bisnis Online Jadi Pilihan Gen Z
Mau selalu on, selalu update? MyTelkomsel Basic hadir buat ngedukung ritme hidupmu. Urusan kuota, pulsa, sampai paket streaming, semuanya tinggal klik aja. Mudah, gak pake lama.
Short Video baru dan seru
Apa Arti Fineshyt, Bahasa Gaul Anak Gen Z yang Viral?
Makna Lirik Garam dan Madu: Lagu “HipDut” Favorit Gen Z
Kamu Harus Tahu: 96 Bahasa Gen Alpha yang Bikin Milenial dan Gen Z Geleng-geleng
Mengulik Kenapa Gen Z Sangat Menyukai Fortnite?