Mau tau cerita rakyat pendek Indonesia kayak Malin Kundang, Tangkuban Perahu, dan lainnya? Baca aja ringkasannya di sini.
Hai, kamu yang suka banget browsing buat cari bacaan seru! Kali ini kita akan jalan-jalan virtual dari Sabang sampai Merauke sambil ngulik beberapa cerita rakyat pendek yang sayang kalau dilewatkan.
Di artikel ini kamu bakal dapet 20 contoh cerita rakyat pendek, urut dari Aceh di Barat hingga Papua di Timur. Ringkas aja, cuma 100-an kata per cerita supaya gampang dibaca di jam istirahat atau naik transportasi umum.
Oh iya, buat kamu yang pengen akses semua bacaan seru ini tanpa buffering, pastiin kuota internet Telkomsel-nya cukup. Kamu bisa aktivasi Paket Internet Super Seru di aplikasi MyTelkomsel biar internet lancar, bacaan makin asik.
Baca Juga: 25 Cerita Rakyat yang Kaya akan Nilai dan Kearifan
Penasaran seperti apa cerita rakyat pendek yang ada dari Sabang sampai Merauke? Yuk, langsung baca ringkasannya satu per satu.
Banta Berensyah adalah pemuda miskin yang hidup bersama ibunya di Aceh. Suatu hari, raja mengadakan sayembara mencari calon suami untuk putrinya, dan syaratnya adalah membawa kain suasa yang sangat langka.
Dengan tekad kuat, Banta berlayar ke negeri seberang meski hanya berbekal doa dan suling bambu.
Perjalanan panjangnya penuh rintangan, tapi ia berhasil menemukan kain itu dengan kecerdikan dan keberanian. Saat kembali, raja terkesan dan menikahkan Banta dengan sang putri.
Cerita ini mengajarkan bahwa keberanian dan kerja keras bisa mengubah nasib seseorang, tidak peduli dari mana ia berasal.
Dikisahkan seorang gadis bernama Seruni yang sangat menyayangi ibunya. Suatu hari, ia dikejar-kejar oleh orang jahat hingga terpojok di tebing Danau Toba.
Karena takut, ia berdoa agar diselamatkan oleh Tuhan, dan tiba-tiba tubuhnya berubah menjadi batu yang menempel di tebing.
Batu itu kemudian dikenal sebagai “Batu Gantung.” Warga percaya tangisan Seruni masih terdengar saat angin berhembus di sana.
Kisah ini mengajarkan tentang kesetiaan seorang anak dan keberanian menghadapi nasib meski dalam keadaan putus asa.
Malin Kundang adalah anak nelayan yang hidup miskin tapi rajin. Ia merantau untuk mencari rezeki dan akhirnya menjadi pedagang kaya. Saat kembali ke kampung, ia malu mengakui ibunya yang miskin dan mengusirnya.
Sang ibu sakit hati dan berdoa agar Malin mendapat balasan. Tak lama kemudian, kapal Malin disambar petir dan ia berubah menjadi batu di pinggir pantai.
Cerita ini jadi pengingat kuat untuk selalu menghormati orang tua, seberapa tinggi pun kita berada.
Cerita rakyat ini mirip seperti kisah Cinderella di Eropa. Ada tokoh Bawang Putih, seorang gadis baik hati yang tinggal bersama ibu tiri dan saudara tirinya, Bawang Merah, yang jahat dan malas.
Suatu hari, Bawang Putih menemukan labu berisi emas setelah menolong nenek tua. Sebaliknya, Bawang Merah yang serakah malah mendapat labu berisi ular.
Kebaikan Bawang Putih akhirnya membuat orang-orang sadar akan pentingnya kejujuran dan ketulusan.
Cerita ini menunjukkan bahwa kebaikan selalu menemukan jalannya untuk menang, sementara keserakahan membawa kesialan.
Putri Tangguk dikenal sebagai wanita yang rajin dan kaya di desanya. Namun, karena kesombongannya, ia pernah menginjak beras hasil panen sendiri sebagai bentuk pamer kekayaan.
Tak lama kemudian, ia kehilangan seluruh hasil panennya. Sejak saat itu, Putri Tangguk menyesal dan berjanji untuk tidak menyia-nyiakan rezeki.
Cerita ini jadi pengingat agar manusia tidak sombong dan selalu menghargai hasil kerja keras sendiri.
Si Kancil dikenal cerdik dan sering menipu hewan lain untuk menyelamatkan diri. Suatu hari, ia hampir dimakan buaya saat menyeberang sungai, tapi dengan kepintarannya ia membuat buaya berjajar seolah-olah sedang dihitung.
Akhirnya Si Kancil berhasil menyeberang dan lolos dari bahaya. Kisah ini mengajarkan pentingnya kecerdikan dan berpikir cepat di situasi sulit, meski terkadang kelicikan juga bisa membawa akibat.
Si Pitung adalah pahlawan rakyat Betawi yang berani melawan penjajah Belanda. Ia mencuri dari orang kaya yang menindas dan membagikan hasilnya kepada rakyat miskin.
Karena perbuatannya, ia dikejar dan akhirnya tewas di tangan pengkhianat. Meski begitu, nama Si Pitung dikenang sebagai simbol keadilan dan keberanian melawan ketidakadilan.
Cerita ini menumbuhkan semangat solidaritas dan perjuangan untuk membela sesama.
Putri Purbasari diasingkan oleh kakaknya karena iri hati. Dalam kesendirian, ia ditemani seekor lutung bernama Kasarung yang ternyata jelmaan pangeran tampan. Kasarung membantu Purbasari membangun kerajaan kecil di hutan.
Ketulusan mereka akhirnya membuat sang kakak kalah dan menyesal. Cerita ini mengajarkan nilai kesetiaan, kebaikan hati, dan bahwa cinta sejati sering datang dalam bentuk yang tidak disangka.
Di Garut, ada seorang janda kaya bernama Nyai Bagendit yang terkenal pelit dan sombong. Ia menolak membantu rakyat miskin, bahkan menghina pengemis yang datang ke rumahnya.
Tak lama kemudian, desa itu tenggelam oleh air dan menjadi danau. Tempat itu kemudian disebut Situ Bagendit (situ berarti “waduk” atau “danau”).
Warga percaya peristiwa itu adalah hukuman bagi keserakahan dan keangkuhan manusia. Pesan moralnya jelas, jangan sombong dan harus selalu berbagi pada sesama.
Baca Juga: Cerita Timun Mas: Dongeng yang Masih Relevan Sampai Sekarang
Sangkuriang jatuh cinta pada Dayang Sumbi, tanpa tahu bahwa wanita itu adalah ibunya sendiri. Saat kebenaran terungkap, Dayang Sumbi memberikan syarat mustahil: membuat danau dan perahu dalam semalam.
Sangkuriang hampir berhasil, tapi gagal saat fajar tiba. Karena marah, ia menendang perahunya hingga terbalik dan menjadi Gunung Tangkuban Perahu. Cerita ini mengingatkan pentingnya kesabaran dan menerima takdir.
Jaka Tarub menemukan tujuh bidadari mandi di sungai dan mencuri selendang salah satu dari mereka, Nawang Wulan. Tanpa selendang, Nawang Wulan tidak bisa kembali ke kahyangan dan akhirnya menikah dengan Jaka Tarub.
Namun, ketika rahasianya terbongkar, Nawang Wulan kembali ke langit. Jaka menyesal seumur hidupnya. Kisah ini mengajarkan bahwa kebohongan sekecil apa pun bisa menghancurkan kepercayaan.
Yuyu Kangkang adalah istri nelayan yang rajin dan sabar. Ia sering dihina karena miskin, tapi tetap bekerja keras membantu suaminya. Suatu hari, ia menemukan mutiara ajaib di laut yang mengubah hidup mereka.
Namun, Yuyu Kangkang tetap rendah hati dan membagikan rezekinya kepada tetangga. Cerita ini mengajarkan bahwa kesabaran dan kerendahan hati selalu berbuah manis.
Roro Jonggrang menolak lamaran Bandung Bondowoso, pangeran sakti yang membunuh ayahnya. Ia memberi syarat membangun seribu candi dalam satu malam agar lamaran diterima.
Bandung hampir berhasil hingga Roro menipu dengan menyalakan api palsu agar pagi cepat datang. Mengetahui tipuannya, Bandung Bondowoso marah dan mengutuk Roro Jonggrang menjadi arca (patung) di Candi Prambanan.
Cerita ini menggambarkan kecerdikan sekaligus konsekuensi dari kebohongan.
Ande-Ande Lumut adalah pangeran tampan yang menyamar mencari istri sederhana dan berhati tulus. Banyak gadis datang, tapi hanya Kleting Kuning yang bersikap jujur dan rendah hati.
Cinta sejati mereka akhirnya bersatu, membuktikan bahwa keindahan hati jauh lebih penting daripada penampilan luar. Cerita ini jadi favorit karena romantis tapi sarat makna.
Putri cantik yang dikutuk menjadi keong karena ulah penyihir jahat hanyut di sungai dan ditemukan oleh seorang nenek baik hati. Saat malam tiba, keong itu berubah menjadi manusia untuk membantu sang nenek.
Suatu hari kutukannya terlepas, dan sang putri kembali ke istana dengan membawa nenek itu bersamanya. Cerita ini mengajarkan kebaikan akan selalu menemukan jalan untuk kembali.
Jayaprana adalah pemuda yang diangkat anak oleh raja dan tumbuh menjadi orang yang bijak dan tampan. Ia jatuh cinta pada Layon Sari, gadis cantik yang ternyata juga menarik perhatian sang raja.
Karena cemburu, raja menyuruh Jayaprana pergi berperang dan membunuhnya di perjalanan. Layon Sari yang berduka bunuh diri menyusul kekasihnya. Kisah ini jadi simbol cinta sejati dan kesetiaan abadi.
Seorang pemuda bernama Mahakam dikenal sangat mencintai alam. Ketika kampungnya rusak karena keserakahan manusia, ia berdoa agar bisa melindungi sungai dari kehancuran.
Doanya dikabulkan, ia berubah menjadi pesut, lumba-lumba air tawar penjaga sungai.
Masyarakat percaya pesut Mahakam adalah simbol keseimbangan dan penjaga lingkungan. Cerita ini mengingatkan manusia untuk menjaga alam agar kehidupan tetap harmoni.
Nenek Pakende adalah sosok menyeramkan yang diyakini suka menculik anak-anak nakal pada malam hari. Konon, ia dulunya wanita tamak yang dikutuk karena tak mau berbagi makanan.
Kisah ini diceritakan turun-temurun agar anak-anak disiplin dan mendengarkan orang tua. Meski seram, maknanya sangat mendalam tentang pentingnya kebaikan dan kepatuhan.
Pangeran Duran dari negeri utara jatuh cinta pada Putri Lolat dari negeri selatan. Cinta mereka terhalang perang antar kerajaan yang tidak mau berdamai. Demi menghentikan perang, mereka menikah diam-diam.
Namun, keduanya tewas saat mencoba menyatukan dua negeri. Rakyat akhirnya sadar akan arti cinta dan perdamaian. Cerita ini melambangkan pengorbanan demi keharmonisan.
Seorang putri cantik dari suku di Papua memohon pada dewa agar diubah menjadi makhluk indah yang bebas. Permintaannya dikabulkan, dan ia berubah menjadi burung dengan bulu warna-warni.
Burung itu kemudian disebut cendrawasih, lambang keindahan dan kebebasan. Cerita ini mengajarkan bahwa kecantikan sejati lahir dari hati yang tulus dan jiwa yang bebas.
Baca Juga: 5 Dongeng Pendek Untuk Anak SD yang Penuh Makna
Itu dia gambaran betapa kayanya budaya Indonesia lewat cerita rakyat pendek yang penuh nilai plus hiburan. Ibaratnya, barusan itu kamu lagi nonton episode “Drama Korea versi Nusantara” tapi lebih singkat dan langsung ke intinya.
Nah, kalau kamu mau baca lebih banyak artikel seputar budaya, hiburan, dan gaya hidup di situs Jelajah Lifestyle Telkomsel, jangan lupa siapkan Paket Internet Super Seru biar makin gampang akses semuanya kapan aja.
Yuk, mulai jelajahi cerita rakyat dari daerahmu sendiri, share ke teman, dan jadiin “camilan” pengetahuan yang asik di saat kamu santai!
Short Video baru dan seru