Ternyata April Fools yang biasanya dipakai sebagai bercandaan, punya sejarah gelap di baliknya! Cari tahu selengkapnya di sini!
Setiap tanggal 1 April, jutaan orang di seluruh dunia berlomba-lomba bikin lelucon, nyebarin hoaks ringan, dan mengerjai teman dekat. Tapi di balik semua tawa dan candaan itu, ada lapisan sejarah April Fools yang jauh lebih kompleks dan gak sepenuhnya lucu.
Yuk, telusuri dari mana April Fools berasal dan sisi gelapnya yang jarang dibahas!
Baca juga: Jelajah Keraton Jogja: Wisata Sejarah Rasa Sultan
Sejarah termasuk dalam info-info yang mesti kamu ketahui buat nambah wawasan. Buat kamu yang gak pernah mau ketinggalan berita terbaru, isi kuotamu lewat aplikasi MyTelkomsel Basic aja. Semua kebutuhan kuota dan pulsamu bisa dibeli lewat sini.
Sebelum ngomongin sisi gelapnya, penting dulu buat tahu dari mana tradisi ini sebenarnya berasal. Dan jawabannya ternyata gak sesederhana yang dikira.
Asal usul April Fools hingga hari ini masih jadi misteri. Tradisi ini sudah dirayakan selama berabad-abad oleh berbagai budaya di seluruh dunia, tapi gak ada satu pun catatan sejarah yang bisa memastikan kapan dan bagaimana tradisi ini benar-benar bermula.
Teori yang paling banyak beredar mengaitkan April Fools dengan peralihan kalender di Prancis pada 1582. Saat itu, Prancis beralih dari kalender Julian ke kalender Gregorian atas perintah Raja Charles IX melalui Edict of Roussillon.
Dalam kalender Julian, tahun baru jatuh sekitar tanggal 1 April, sedangkan kalender Gregorian yang baru memindahkan tahun baru ke 1 Januari. Orang-orang yang belum tahu soal perubahan ini dan masih merayakan tahun baru di tanggal lama pun jadi bahan tertawaan.
Mereka dijuluki "April Fools" dan sering dikerjai dengan cara menempelkan ikan kertas di punggung mereka, sebuah tradisi yang di Prancis dikenal sebagai "poisson d'avril" atau "ikan April," sebagai simbol orang yang mudah tertipu.
Ada juga teori yang mengaitkan April Fools dengan festival Hilaria di Roma kuno. Festival ini dirayakan setiap akhir Maret oleh pengikut kultus Cybele, di mana para pesertanya berdandan menyamar dan mengejek sesama warga hingga para hakim sekalipun. Suasananya penuh kekacauan yang disengaja dan dianggap sebagai bagian dari ritual.
Satu lagi teori yang cukup menarik datang dari sastra. Karya Geoffrey Chaucer berjudul The Canterbury Tales yang ditulis sekitar tahun 1392 dianggap sebagai salah satu referensi tertulis paling awal yang dikaitkan dengan April Fools, meski penafsirannya masih diperdebatkan oleh para ahli sampai sekarang.
Nah, di sinilah bagian yang bikin bulu kuduk berdiri. Di balik lelucon dan tawa, ada beberapa kejadian di tanggal 1 April yang sama sekali gak lucu.
Ini mungkin salah satu tragedi paling memilukan yang terkait langsung dengan budaya April Fools. Pada 1 April 1946, tsunami dahsyat berkecepatan sekitar 804 km/jam dengan ketinggian gelombang mencapai 30 meter menghantam Hawaii.
Yang bikin tragedi ini makin memilukan adalah banyak warga setempat yang awalnya gak percaya saat menerima peringatan bencana. Mereka mengira itu cuma lelucon April Fools.
Akibatnya, banyak yang gak sempat menyelamatkan diri dan akhirnya menjadi korban bencana yang seharusnya bisa dihindari.
Tragedi ini kemudian mendorong pemerintah Amerika Serikat untuk mendirikan sistem peringatan dini tsunami yang lebih serius, karena terbukti bahwa budaya meragukan informasi di tanggal 1 April bisa berakibat fatal.
April Fools juga punya sejarah panjang sebagai momen di mana lelucon kebablasan berujung pada konsekuensi serius.
Bercanda soal ancaman bom, mengaku sebagai penculik, atau menyebarkan kabar kematian palsu tentang seseorang, semua pernah terjadi atas nama "lelucon April Mop" dan semuanya berakhir dengan masalah hukum bagi pelakunya.
Ada juga narasi yang beredar luas di komunitas Muslim, khususnya di Indonesia dan Malaysia, yang mengaitkan April Fools dengan tragedi di Granada, Spanyol pada 1 April 1487. Dikisahkan bahwa ribuan Muslim di Granada menjadi korban pengkhianatan setelah dijanjikan keamanan, lalu dibunuh massal pada tanggal tersebut.
Meski klaim ini masih diperdebatkan dan belum bisa dikonfirmasi secara akademis, narasi ini tetap menjadi salah satu alasan mengapa sebagian umat Muslim memilih untuk gak ikut merayakan April Fools.
Baca juga: Museum Majapahit: 3 Ribu Aja, Intip Jejak Kerajaan Terbesar!
Di era sekarang, April Fools sudah bergeser jauh dari akar sejarahnya yang kelam. Hari ini lebih banyak diisi dengan lelucon kreatif dari brand besar, konten viral di media sosial, hingga candaan ringan antar teman.
Beberapa momen April Fools modern yang paling ikonik datang dari perusahaan teknologi besar. Peluncuran Gmail oleh Google pada 1 April 2004 misalnya, awalnya dianggap lelucon oleh publik karena Google memang terkenal suka iseng di tanggal ini.
Nyatanya, Gmail bukan hoaks, dan sekarang jadi salah satu layanan email terbesar di dunia.
Tapi tetap ada garis yang perlu dijaga. Lelucon yang melibatkan informasi medis palsu, isu keamanan, atau hal-hal yang bisa memicu kepanikan publik tetap berbahaya meski dibungkus dengan embel-embel "April Fools." Seperti yang terbukti dari sejarahnya, gak semua kebohongan di tanggal 1 April berakhir dengan tawa.
Jadi, kalau mau ikut merayakan April Fools, pastikan leluconmu gak bikin orang panik, gak menyebabkan kerugian, dan yang paling penting: tetap ada dalam batas humor yang sehat!
Baca juga: Mengenal Sejarah, Penjelasan, dan Jenis Provider
Seru kan ngulik sejarah di balik hari-hari yang sering kita anggap biasa? Biar kamu bisa terus update info dan fakta menarik tanpa gangguan kuota habis di tengah jalan, pantau sisa data kamu lewat MyTelkomsel Basic.
Cek kuota dan isi paket kapan saja, semua beres dalam satu aplikasi!
Short Video baru dan seru