6 Fakta Tentang Resesi Ekonomi Global yang Mengancam 2023

Paket Data Orbit Telkomsel Buat YouTuber Biar Ngonten Makin Lancar

 

Bencana ekonomi yang kita kenal sebagai resesi menjadi pemberitaan yang paling populer di tahun 2022 ini. Karena akan ada banyak negara yang terdampak oleh penurunan ekonomi global tersebut.

 

Ada banyak sisi gelap yang menarik untuk kamu simak terkait masalah ancaman kekacauan ekonomi ini. Penasaran apa saja fakta-fakta gelap di balik ramalan ekonomi tersebut? Yuk, simak artikel ini hingga selesai.

 

Fakta Ekonomi Gelap Akibat Resesi 

Berikut ini kami sudah merangkum berbagai fakta menarik seputar ramalan resesi ekonomi yang kabarnya akan terjadi pada tahun 2023. Fakta yang sudah kami rangkum di sini datang dari berbagai belahan dunia.

 

Baca Juga: Telco Big Data Buka Lebih Banyak Peluang Bisnis Kian Berkembang

 

1. Resesi Amerika Serikat Diprediksi Ringan

Fakta yang pertama datang dari Negeri Paman Sam, yaitu Amerika. Menurut Prospek Ekonomi Global, Peterson Institute for International Economic, Amerika Serikat (AS) hanya akan terkena dampak ringan saja.

 

Menurut ramalan beberapa pakar ekonomi, AS hanya akan mengalami kontraksi 0,5 persen saja di tahun mendatang.

 

Menurut Dyann, mantan asisten sekretaris kebijakan ekonomi dan kepala ekonom yang bertugas di Departemen Keuangan Amerika Serikat, AS hanya akan menurun 4,6 persen saja. Penurunan tersebut akan terjadi selama empat kuartal pada tahun 2022 menjadi 3,6 persen.

 

2. Suku Bunga Acuan Mungkin Perlu Dinaikkan

Resesi global akan berdampak besar pada ekonomi dunia. Hal ini karena The Fed kemungkinan besar akan menaikan suku bunga acuan. Inilah yang juga membuat AS kelabakan, karena dengan kenaikan suku bunga tersebut membuat AS kemungkinan akan terdampak, meski ringan.

 

Suku bunga acuan yang tinggi juga akan berpotensi pada peningkatan pengangguran di tahun 2023. Bahkan menurut Dyann, beberapa negara akan mengalami lonjakan pengangguran hingga 5,5 persen.

 

Melansir dari CNBC Indonesia, Halim Alamsyah yang merupakan seorang Ekonom Senior & Ketua Dewan Komisioner LPS (2015-2020), mengatakan bahwa hingga saat ini situasi kenaikan suku bunga masih terus terjadi. Dirinya mengatakan bahwa BI juga harus berhati-hati.

 

3. Kondisi Keamanan Dunia Sedang Kacau

Perang yang masih terus berlanjut antara Rusia dan Ukraina juga memberikan dampak yang luar biasa pada ekonomi dunia. COVID-19 dan peperangan adalah dua hal yang membuat kondisi ekonomi dunia di 2023 cenderung gelap untuk semua negara.

 

Menurut Presiden Jokowi (Joko Widodo) resesi global akibat pandemi dan peperangan membuat dampak yang luar biasa, bahkan memengaruhi ekonomi dunia internasional.

 

Ada tiga dampak krisis yang langsung dirasakan oleh berbagai negara, yaitu krisis pangan, energi dan keuangan. Bahkan hingga saat ini, peperangan antara kedua negara tersebut masih berlanjut.

 

4. Kemungkinan PHK Besar-besaran

Resesi global yang mengakibatkan bencana keuangan pada berbagai negara bisa memicu PHK. Seperti yang kami paparkan sebelumnya, PHK akan terjadi di berbagai negara, khususnya yang terkena dampak.

 

Bagi Indonesia sendiri, bencana ekonomi tersebut juga akan mengganggu pada masuknya modal investor ke negara kita. Beberapa pengamat mengatakan bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang tidak akan terdampak. Meski begitu, ramalan terkait ekonomi global tahun 2023 masih gelap dan penuh dengan ketidakpastian.

 

5.  Inggris Dihantam Masalah Ekonomi

Salah satu negara besar yang akan terdampak oleh bencana ekonomi ini adalah Inggris. Bahkan saat ini negara tersebut tengah mengalami krisis biaya hidup dan juga permasalahan politik yang amat pelik.

 

Permasalahan Inggris bahkan tidak hanya soal energi saja. Selain itu, negara tersebut bahkan tengah menghadapi permasalahan inflasi dan juga kemiskinan.

 

Para ekonom sepakat bahwa Inggris mengalami permasalahan yang berat. Salah satu penyebab permasalahannya yaitu oleh tindakan mantan Perdana Menteri Inggris, yaitu Boris Johnson pada saat dia masih berkuasa.

 

Boris Johnson menarik Inggris untuk keluar dari keanggotaan Uni Eropa pada tahun 2020, tepatnya di bulan Januari. Sejak saat itu, negara ini sudah mengalami kelangkaan barang-barang.

 

6. Belasan Negara Mengantre IMF

Menurut International Monetary Fund, atau IMF, ekonomi global akan mengalami kerugian yang sangat fantastis. Bahkan menurut lembaga tersebut, risiko kerugiannya bisa mencapai 4 triliun dolar Amerika Serikat.

 

Menurut IMF, angka kerugian tersebut bersifat akumulatif mulai dari terjadinya krisis global hingga tahun 2026 mendatang. Bahkan IMF juga sudah menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi global hanya 2,8 persen saja pada tahun 2023.

 

Berlandaskan dari data-data tersebut, maka bisa kita tarik kesimpulan bahwa akan ada banyak negara yang mengantre ke IMF. Tujuannya tentu saja untuk melakukan pinjaman agar bisa bertahan dari goncangan ekonomi.

 

Sampai saat ini, IMF bahkan terus menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonominya. Hal ini membuktikan bahwa prediksi ekonomi di tahun 2023 tergolong masih gelap untuk kita perhitungkan.

 

Di tengah ketidakpastian ekonomi akibat ramalan resesi, alangkah baiknya kamu melakukan pencegahan sejak dini. Salah satu caranya adalah mempersiapkan pekerjaan sampingan. Yuk, temukan informasi lengkapnya di www.telkomsel.com/kuncie