Telkomsel | 24 Juli 2020
0 shares

The NextDev Hub X Huawei Webinar Series:
Memanfaatkan AI and Big Data Dalam Strategi Ekonomi Digital Skala Nasional

The NextDev Hub X Huawei Webinar Series: Memanfaatkan AI and Big Data Dalam Strategi Ekonomi Digital Skala Nasional

Perkembangan teknologi semakin dekat dengan masyarakat luas karena terbukanya informasi serta minat penggunaan gadget yang tinggi. Terlihat dari bagaimana big data dan AI (Artificial Intelligence) semakin dipandang sebagai bagian penting untuk dimanfaatkan, bahkan dalam skala dunia. Ada prediksi yang menyatakan bahwa akan ada jumlah total data dari seluruh dunia sebesar 163 zettabytes (163 triliun gigabytes)pada tahun 2025.

Pengumpulan data dalam big data dan AI dinilai mampu meningkatkan ekonomi digital nasional. Sebenarnya, apa arti dari big data dan AI? Bagaimana cara penerapannya dalam pemerintahan? Untungnya semua pertanyaan dijawab secara lengkap di dalam webinar “The NextDev Hub x Huawei Webinar Series” dengan topik “AI and Big Data Enable National Digital Economy Strategy” pada Selasa, 21 Juli 2020.

Dipandu oleh Senior Consultant Huawei, Fu Chengdong, ia menjelaskan bahwa sekarang masyarakat dunia hidup di era data explosion. Terdapat data producer dan data consumer yang sama-sama digunakan setiap harinya. Bahkan terdapat 140 exabytes data per hari. Jika dihitung dalam satuan gigabyte, jumlah data tersebut sangatlah besar, yakni mencapai 140 miliar gigabytes.

Baca Juga: Memahami Internet of Things dan Penggunaannya di Indonesia

Fakta menarik lainnya juga dipaparkan olehnya. Di mata dunia digital, data yang ada dinilai sebagai oil atau minyak. Berbanding terbalik dengan dunia nyata yang melihat oil sebagai minyak bumi. Big data dan AI sudah menjadi infrastruktur baru dalam dunia digital. Begitu juga dengan IoT (Internet of Things).

Big Data dalam Pemerintahan

Dalam big data, ada tiga bagian yang bisa ditingkatkan, yaitu pemerintah yang lebih efisien, pelayanan publik yang lebih baik, dan juga ekonomi digital. Penggunaan big data sebenarnya bisa dimanfaatkan oleh pemerintah daerah maupun pusat asalkan tahu bagaimana caranya. Menurut Fu Chengdong, Tiongkok sudah melakukan optimalisasi data untuk pelayanan publik. Semua ini dimulai dari 2013 silam.

Contoh dari penggunaan big data yang paling dekat adalah Health QR Code saat pandemi COVID-19 di Tiongkok. Penggunaan data yang sudah terintegrasi membuat setiap warga bisa memiliki tracking kesehatan via QR Code.

Selain itu, contoh lainnya adalah penggunaan big data dengan aplikasi. Teknologi ini pula yang sebenarnya sudah dimanfaatkan pihak Ditjen Pajak Indonesia dengan pembuatan NPWP sistem online dan sistem e-filling untuk Wajib Pajak. Penggunaan big data juga bisa untuk asuransi, edukasi, dan transportasi.

Untuk bisa mendapatkan infrastruktur penggunaan big data dalam digital government, fondasi yang dimiliki memang harus kuat. Dibutuhkan kolaborasi cloud infrastructure, big data share & exchange, dan big data platform. Perlu diketahui, dalam core business big data untuk ekonomi digital, ada empat poin utama, yaitu data storage, data security, data network, dan data management.

Mungkin sekarang kamu ingin tahu bagaimana caranya data-data tersebut datang, disimpan, dan digunakan. Data-data yang dikumpulkan datang dari berbagai sumber. Salah satunya adalah cross data convergence yang terdiri dari lima poin, yaitu cross region, cross service, cross system, cross level, dan cross department.

Kemudian barisan data yang ada disimpan di dalam Big Data Center untuk menjaga kerahasiaan dan juga keamanan. Hasilnya adalah penggunaan data tersebut bisa mempermudah pelayanan publik, memperkuat ekonomi digital, dan membuat digital government lebih efisien.

Bagaimana Memaksimalkan AI?

Big data tidak bisa bekerja sendiri. Teknologi ini juga membutuhkan AI karena memiliki kemampuan melihat, mendengar, melakukan aksi, dan berpikir. Berbanding 180 derajat dengan media lain yang sudah ada terlebih dahulu, seperti gambar, foto, dan suara.

Dalam presentasi yang diberikan, ada contoh AI yang sebenarnya sudah mulai digunakan dalam aktivitas sehari-hari masyarakat Indonesia. Face payment dan smart home adalah dua contoh yang dimaksud.

Perkembangan AI bukan hanya dalam beberapa tahun terakhir ini. Ada empat gelombang perkembangan inovasi AI. Dimulai dari tahun 2000 (internet intelligence), tahun 2009 (business intelligence), tahun 2012 (perception intelligence), hingga tahun 2018 (autonomous intelligence).

AI tidak hanya mampu mempermudah setiap orang dalam menjalani aktivitas, tetapi juga memiliki dampak positif dalam menghadapi masalah, termasuk pandemi COVID-19. Fu Chengdong memberikan bukti bahwa Huawei telah memiliki sistem AI yang telah membantu sistem IT berbagai negara, seperti Ekuador dan Argentina dalam menekan usaha mengatasi pandemi.

Untuk bisa mencapai Indonesia dengan memiliki teknologi lebih baik, pemanfaatan big data dan AI menjadi langkah penting. Kolaborasi AI, cloud big data, 5G/Broadband, dan IoT bisa membuat usaha bergerak maju bersama Indonesia bisa terwujud. Itulah pesan yang ingin disampaikan Telkomsel dan Huawei di dalam webinar kali ini.

Semoga penjelasan yang diberikan dalam webinar bisa membuat kamu mendapatkan informasi teknologi yang lebih mendalam dan bermanfaat. Bagi kamu yang ingin lebih tahu tentang perkembangan teknologi terkini, jangan sampai ketinggalan webinar berikutnya dari “The NextDev Hub X Huawei Webinar Series”.

Kamu butuh informasi lebih lanjut mengenai kegiatan tersebut? Yuk, kunjungi akun media sosial resmi The NextDev berikut ini:

Instagram: https://instagram.com/thenextdev

Twitter: https://twitter.com/the_nextdev  

Facebook: https://facebook.com/thenextdev


Related Blogs