Target audience menjadi salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan strategi pemasaran. Beriklan sudah, posting konten sudah rutin dilakukan, bahkan promo di momen-momen khusus juga sudah sering diadakan. Namun, hasilnya masih belum sesuai harapan. Anda bisa menjalankan berbagai strategi tersebut, tetapi jika target audience yang dituju kurang tepat, hasilnya tentu tidak akan maksimal.
Pasalnya, Anda tidak bisa memasarkan produk atau layanan secara efektif tanpa memahami siapa orang yang benar-benar membutuhkan dan berpotensi membelinya. Apa pun strategi pemasaran yang digunakan, semuanya perlu disesuaikan dengan siapa target audience Anda. Lantas, apa sebenarnya target audience dan mengapa perannya begitu penting dalam pemasaran?
Mengenal Target Audience
Secara sederhana, target audence adalah kelompok orang yang paling potensial menerima, memahami, dan merespons pesan dari sebuah brand. Mereka biasanya memiliki kesamaan karakteristik, seperti usia, jenis kelamin, lokasi, pendidikan, pendapatan, minat, hingga perilaku.
Meski demikian, perlu dicatat bahwa memahami target audience bukan hanya sebatas mengetahui siapa yang mungkin membeli produk. Anda juga perlu memahami masalah yang mereka hadapi, kebutuhan mereka, kebiasaan mereka, serta alasan mereka memilih suatu produk.
Pemahaman inilah yang nantinya akan menentukan gaya komunikasi seperti apa yang cocok untuk mereka. Berbekal pengetahuan tersebut, Anda juga bisa membuat pesan yang terasa lebih personal dan relevan.
Pentingnya Target Audience Dalam Strategi Pemasaran
Menentukan target audience memungkinkan bisnis menggunakan sumber daya secara lebih efektif. Sebagai contoh, jika Anda memiliki anggaran iklan terbatas, apakah masuk akal jika iklan tersebut ditampilkan kepada semua orang? Setidaknya ada beberapa alasan mengapa target audience ini penting:
1. Membuat Pesan Lebih Relevan
Setiap orang memiliki gaya komunikasi yang berbeda. Jadi, tidak mungkin Anda bisa berkomunikasi dengan satu gaya untuk menjangkau semua orang. Jika ini yang dilakukan, hampir bisa dipastikan pesan yang disampaikan tidak akan sampai ke mereka.
Dengan memiliki target audience yang jelas, Anda dapat menyesuaikan bahasa, visual, dan penawaran dengan kebutuhan audiens. Pesan yang disampaikan pun jadi lebih relevan.
2. Menghemat Anggaran Pemasaran
Memasarkan produk atau layanan ke semua orang memang bisa membuat nama brand atau bisnis Anda dikenal banyak orang. Tapi jika mayoritas dari mereka tidak berakhir jadi pelanggan, apakah masih sepadan?
Saat Anda memiliki target audience yang jelas, promosi dapat diarahkan ke orang yang lebih berpotensi tertarik. Daripada berusaha menjangkau semua orang, cara ini jelas lebih efisien dan bisa mengurangi pemborosan.
3. Membantu Mengembangkan Produk
Memahami kebutuhan audiens juga bisa membantu Anda melihat produk dari sudut pandang orang yang menggunakannya. Dari feedback, pertanyaan, atau keluhan yang mereka sampaikan, Anda bisa menemukan bagian yang masih kurang atau kebutuhan yang belum terjawab.
Insight seperti ini bisa jadi bahan untuk memperbaiki produk maupun layanan agar lebih sesuai dengan apa yang benar-benar mereka butuhkan. Jadi selain bagus secara bisnis, produk yang dikembangkan nanti juga benar-benar bermanfaat bagi pelanggan.
4. Meningkatkan Peluang Konversi
Semakin relevan pesan yang diterima audiens, semakin besar kemungkinan mereka merasa bahwa produk atau layanan yang Anda tawarkan memang sesuai dengan kebutuhan mereka. Saat seseorang merasa “ini yang saya cari”, mereka akan lebih mudah tertarik untuk mengetahui lebih jauh, mencoba produk, hingga akhirnya memutuskan untuk membeli.
Jenis-Jenis Target Audience
Target audience tidak selalu berarti konsumen yang membeli produk secara langsung. Orang yang menjadi sasaran komunikasi pemasaran bisa saja memiliki peran yang berbeda, tergantung pada jenis bisnis dan produk yang ditawarkan. Berikut beberapa jenis target audience yang umum dalam bisnis:
1. End Consumers
End consumers atau konsumen akhir adalah orang yang membeli dan menggunakan produk atau layanan untuk kebutuhan pribadi. Jenis target audiens ini memiliki satu ciri yang khas. Mereka adalah orang yang menerima pesan pemasaran sekaligus orang yang menggunakan produk tersebut.
Misalnya, seseorang membeli laptop untuk kuliah, sepatu untuk digunakan sehari-hari, atau skincare untuk merawat kulit. Dalam situasi seperti ini, strategi pemasaran dapat lebih banyak menyoroti manfaat produk, pengalaman penggunaan, harga, maupun bagaimana produk tersebut membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
2. Business Customers
Business customers adalah perusahaan atau organisasi yang membeli produk atau jasa dari bisnis lain untuk mendukung operasional, produksi, atau kebutuhan bisnis mereka. Jenis target audience ini umum ditemukan dalam model business-to-business (B2B).
Berbeda dengan konsumen akhir, keputusan pembelian dari business customers biasanya lebih kompleks. Orang yang menggunakan produk belum tentu orang yang mengambil keputusan pembelian. Ada kemungkinan keputusan tersebut melibatkan manajer, bagian keuangan, procurement, hingga pimpinan perusahaan.
Jadi, pesan pemasaran perlu mempertimbangkan lebih dari sekadar manfaat produk. Anda mungkin perlu menjelaskan bagaimana produk dapat membantu menghemat biaya, meningkatkan efisiensi, mengurangi risiko, atau mendukung tujuan bisnis.
3. Resellers
Reseller adalah individu atau perusahaan yang membeli produk dari produsen atau distributor untuk kemudian menjualnya kembali kepada konsumen atau pelanggan bisnis. Berbeda dengan end consumer yang membeli untuk digunakan, reseller membeli produk dengan tujuan mendapatkan keuntungan dari penjualan kembali.
Saat membeli sesuatu, reseller tidak hanya melihat kualitas atau popularitas produk. Mereka juga memperhatikan harga beli, margin keuntungan, permintaan pasar, ketersediaan stok, hingga kemudahan produk untuk dipasarkan.
Jadi agar reseller tertarik, Anda tidak cukup hanya mengatakan bahwa produknya berkualitas. Anda juga perlu menunjukkan alasan mengapa produk tersebut memiliki peluang untuk laku di pasar dan menguntungkan bagi reseller.
Karakteristik Target Audience yang Perlu Diketahui
Semakin spesifik Anda memahami audiens, semakin mudah juga menentukan pendekatan komunikasinya nanti. Untuk itu, Anda juga perlu memahami beberapa karakteristik target audience. Berikut beberapa di antaranya:
1. Demografis
Karakteristik demografis berkaitan dengan informasi dasar tentang seseorang, seperti usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, dan lokasi. Data ini biasanya menjadi langkah awal untuk mempersempit target audience.
2. Geografis
Karakteristik ini berkaitan dengan tempat tinggal atau wilayah tempat audiens berada. Hal ini bisa mencakup negara, provinsi, kota, hingga area tertentu yang relevan dengan bisnis.
3. Psikografis
Jika demografi membantu Anda mengetahui siapa audiens, psikografis membantu Anda memahami seperti apa mereka. Karakteristik ini mencakup gaya hidup, minat, hobi, nilai, budaya, kepribadian, serta opini yang mereka miliki.
4. Perilaku
Karakteristik yang satu ini lebih berkaitan dengan bagaimana audiens berinteraksi dengan produk, brand, maupun proses pembelian. Hal ini bisa mencakup kebiasaan belanja, platform yang sering digunakan, preferensi pembelian online atau offline, hingga tingkat loyalitas terhadap sebuah brand.
Perbedaan Target Audience dan Target Market
Target audience dan target market memang terdengar serupa. Namun perlu dicatat, keduanya tidak selalu sama.
Target market memiliki cakupan yang lebih luas. Istilah ini merujuk pada keseluruhan segmen konsumen yang berpotensi membeli produk. Sementara itu, target audience merupakan bagian yang lebih spesifik dan menjadi fokus komunikasi pemasaran.
Contohnya, sebuah brand skincare memiliki target market perempuan berusia 18-35 tahun. Untuk kampanye produk anti-acne, target audiencenya bisa saja dipersempit. Misal, contoh target audience di sini bisa jadi mahasiswi berusia 18-24 tahun yang tinggal di kota besar dan memiliki masalah jerawat.
Jadi jika target market menjawab “siapa yang berpotensi membeli?”, target audience lebih dekat dengan pertanyaan “kepada siapa pesan ini sebaiknya disampaikan?”
Cara Menentukan Target Audience yang Tepat
Menentukan target audience sebaiknya tidak hanya berdasarkan asumsi. Anda bisa menggunakan beberapa langkah berikut:
1. Pahami Produk atau Jasa Anda
Identifikasi manfaat utama, masalah yang dapat diselesaikan, serta keunggulan produk. Dari sini, Anda bisa memperkirakan siapa yang paling membutuhkan tawaran tersebut.
2. Gunakan Data yang Tersedia
Perhatikan data media sosial, pengunjung website, pelanggan lama, orang yang pernah mendaftar, hingga konsumen yang pernah melakukan pembelian. Sebagai dasar menentukan target audience, data-data tersebut jauh lebih bisa dipertanggungjawabkan.
3. Identifikasi Pain Points
Cari tahu masalah yang ingin diselesaikan audiens. Pain point ini bisa berupa masalah sebelum membeli maupun hambatan saat menggunakan atau membeli produk.
4. Kenali Kebutuhan dan Minat Mereka
Ketahui apa yang mereka cari, sukai, dan anggap penting. Informasi ini membantu Anda membuat pesan yang terasa lebih relevan.
5. Analisis Perilaku Konsumen
Perhatikan kebiasaan belanja, platform yang sering digunakan, serta preferensi mereka dalam melakukan pembelian. Beda perilaku, beda juga cara Anda menjangkau mereka nantinya.
6. Pelajari Kompetitor
Amati kampanye, konten, pesan pemasaran, dan ulasan konsumen kompetitor. Dari sana, Anda mungkin menemukan celah yang belum dimanfaatkan.
7. Validasi dengan Riset
Jangan hanya mengandalkan asumsi. Gunakan survei, feedback pelanggan, atau data perilaku untuk memastikan gambaran audiens Anda memang sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Menentukan Target Audience
Menentukan target audience memang bisa membantu strategi pemasaran menjadi lebih terarah. Namun, proses ini juga bisa keliru jika dilakukan hanya berdasarkan asumsi atau pemahaman yang terlalu sederhana tentang pelanggan. Saat menentukan target audience, pastikan untuk menghindari beberapa kesalahan berikut ini:
1. Menargetkan Semua Orang
Produk Anda mungkin bisa digunakan oleh banyak orang. Namun, bukan berarti Anda harus membuat satu pesan pemasaran yang ditujukan kepada semua orang. Saat target terlalu luas, pesan yang dibuat biasanya menjadi terlalu umum karena berusaha cocok untuk siapa saja.
2. Hanya Mengandalkan Demografi
Usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendapatan, dan lokasi memang penting untuk memahami target audience. Namun, informasi tersebut belum cukup untuk menggambarkan seseorang secara utuh.
Dua orang yang sama-sama berusia 25 tahun dan memiliki pendapatan yang sama, misalnya, belum tentu memiliki kebutuhan atau kebiasaan belanja yang serupa. Salah satunya mungkin lebih mengutamakan harga, sementara yang lain lebih memperhatikan kualitas dan pengalaman penggunaan. Jadi, Anda juga perlu melihat faktor lain seperti gaya hidup, minat, nilai yang dianut, hingga perilaku mereka ketika memilih dan membeli produk.
3. Mengandalkan Asumsi
Salah satu kesalahan yang cukup sering terjadi adalah merasa sudah mengenal pelanggan tanpa benar-benar memeriksa data. Anda mungkin merasa tahu apa yang mereka butuhkan karena selama ini berinteraksi dengan pelanggan. Namun, persepsi tersebut belum tentu menggambarkan kondisi seluruh audiens.
Karena itu, jangan berhenti pada asumsi. Periksa data dari media sosial, website, riwayat pembelian, feedback pelanggan, survei, atau interaksi lainnya. Semakin banyak informasi yang Anda gunakan, semakin kecil kemungkinan strategi pemasaran dibangun berdasarkan dugaan yang keliru.
4. Tidak Memperbarui Profil Audiens
Target audience bukan sesuatu yang selalu sama. Perubahan tren, teknologi, kondisi ekonomi, hingga kebiasaan konsumen dapat memengaruhi cara mereka mencari informasi dan mengambil keputusan pembelian.
Audiens yang dulu aktif di satu platform mungkin mulai berpindah ke platform lain. Begitu juga kebutuhan dan prioritas mereka bisa berubah seiring waktu. Profil target audience sebaiknya ditinjau secara berkala untuk memastikan gambaran tentang audiens Anda tetap sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Kenali Audiens Lebih Dalam, Buat Kampanye Lebih Tepat Sasaran
Menentukan target audience tidak bisa dilakukan hanya dengan memilih kelompok berdasarkan usia, jenis kelamin, atau lokasi. Anda juga perlu memahami siapa mereka, apa yang mereka butuhkan, bagaimana perilaku mereka, hingga pesan seperti apa yang paling mungkin mendapatkan perhatian. Semakin lengkap pemahaman tersebut, semakin besar peluang Anda menyusun strategi pemasaran yang relevan.
Di sisi lain, memahami audiens juga tidak bisa dilakukan hanya dengan mengandalkan perkiraan. Anda butuh data untuk melihat audiens dengan lebih jelas sehingga keputusan pemasaran bisa dibuat dengan lebih terarah.
Melalui DigiAds dari Telkomsel Enterprise, Anda bisa menjangkau target audience dengan lebih tepat melalui segmentasi audiens berbasis data insight dari jaringan Telkomsel. Dengan berbagai parameter yang relevan, DigiAds memungkinkan bisnis menyusun target audiens dengan lebih spesifik. Jadi, kampanye pemasaran dapat berjalan lebih efektif sekaligus meningkatkan potensi engagement dan konversi.
Untuk informasi lebih lanjut tentang bagaimana DigiAds dapat menjadi solusi keberhasilan kampanye bisnis Anda, segera konsultasikan bersama Telkomsel Enterprise sekarang!
FAQ
Target audience adalah apa?
Target audience adalah kelompok orang yang paling potensial menerima, memahami, dan merespons pesan dari sebuah brand. Mereka biasanya memiliki karakteristik tertentu yang sama, seperti usia, jenis kelamin, lokasi, pendidikan, pendapatan, minat, hingga perilaku.
Apa perbedaan target audience dan target market?
Target market memiliki cakupan yang lebih luas, sedangkan target audience lebih spesifik. Target market mencakup keseluruhan segmen konsumen yang berpotensi membeli produk. Sementara itu, target audience merupakan bagian dari target market yang menjadi fokus utama komunikasi pemasaran.
Bagaimana cara menentukan target audience?
Cara yang dapat dilakukan untuk menentukan target audience adalah memahami produk atau jasa, menggunakan data yang tersedia, mengidentifikasi pain points, mengenali kebutuhan dan minat audiens, menganalisis perilaku konsumen, mempelajari kompetitor, serta melakukan validasi melalui riset. Data dari media sosial, website, pelanggan lama, riwayat pembelian, survei, dan feedback pelanggan dapat membantu memastikan bahwa target audience yang ditentukan tidak hanya berdasarkan asumsi.
Apa saja contoh target audience?
Contoh target audience dapat dibedakan berdasarkan peran mereka dalam proses pembelian. End consumers adalah konsumen akhir yang membeli produk untuk kebutuhan pribadi. Business customers adalah perusahaan atau organisasi yang membeli produk untuk mendukung operasional bisnis. Sementara itu, reseller membeli produk dari produsen atau distributor untuk dijual kembali.