5 Cara Efektif untuk Mengurangi Carbon Footprint dalam Industri
Blog
30 Jan 2026
Diperbarui pada 30 Jan 2026

Mulai dari mesin yang terus menyala sampai pendingin ruangan yang tidak pernah mati, semua aktivitas tersebut menjadi penyumbang menumpuknya carbon footprint. Perlahan namun pasti, penumpukan ini pun semakin membebani bumi. 

 

Tentunya hal ini memberikan dampak yang tidak kecil. Ketersediaan air bersih menurun, kekeringan semakin sering terjadi, cuaca jadi tidak menentu, hingga risiko bencana alam ikut meningkat, merupakan dampak dari carbon footprint yang semakin menumpuk.  

 

Oleh karenanya, penting untuk mengurangi carbon footprint dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam sektor industri. Apa yang bisa membuat carbon footprint industri jadi membengkak? Strategi apa yang paling efektif untuk menguranginya? 

 

Apa itu Carbon Footprint? 

Secara sederhana, carbon footprint adalah total emisi gas rumah kaca yang dilepaskan ke atmosfer akibat aktivitas manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebagai catatan, gas rumah kaca ini bukan hanya karbon dioksida (CO₂). Metana (CH₄), dinitrogen oksida (N₂O), dan beberapa gas lain yang punya efek serupa terhadap pemanasan global juga termasuk di dalamnya. 

 

Setiap aktivitas yang melibatkan energi, bahan bakar, atau proses produksi pada dasarnya akan meninggalkan jejak emisi. Itulah kenapa carbon footprint cenderung semakin tinggi seiring dengan meningkatnya aktivitas operasional pabrik, termasuk penggunaan listrik di kantor. 

 

Jejak ini bisa dihitung pada banyak level, mulai dari individu, perusahaan, bahkan negara. Di ranah industri, angkanya biasanya jauh lebih besar karena prosesnya melibatkan mesin, transportasi, dan konsumsi energi dalam skala masif.  

 

Ada satu catatan penting yang harus selalu diingat. Semakin besar carbon footprint yang dilepas, semakin besar pula kontribusinya terhadap perubahan iklim. 

 

Penyebab Carbon Footprint 

Jika ditarik ke akar masalahnya, carbon footprint ini muncul karena berbagai aktivitas yang membutuhkan energi dan menghasilkan emisi gas rumah kaca.  

 

Namun di sektor industri, skalanya bisa jauh lebih besar dibanding aktivitas rumah tangga biasa. Agar lebih mudah dipahami, berikut beberapa penyebab utamanya. 

 

1. Penggunaan Energi dari Bahan Bakar Fosil 

Sebagian besar industri masih mengandalkan sumber energi dari batu bara, minyak, dan gas alam. Energi inilah yang menyalakan mesin produksi, menjaga AC tetap menyala, menyalakan lampu, hingga mendukung proses pemanasan dalam manufaktur. 

 

Setiap kali energi tersebut dipakai, ada emisi gas rumah kaca yang ikut dilepas ke atmosfer. Di sinilah salah satu sumber terbesar carbon footprint industri bermula. 

 

2. Transportasi dan Logistik 

Aktivitas transportasi juga menyumbang emisi yang tidak sedikit. Mulai dari pengiriman bahan baku ke pabrik, distribusi produk jadi ke berbagai wilayah, sampai perjalanan dinas dan mobilitas karyawan, semuanya masih bergantung pada kendaraan berbahan bakar fosil.  

 

Jadi semakin jauh jarak tempuh dan semakin sering aktivitas pengiriman dilakukan, otomatis semakin besar pula carbon footprint yang dihasilkan. 

 

3. Proses Produksi dan Manufaktur 

Beberapa jenis industri memang memiliki potensi emisi yang tinggi karena sifat proses produksinya. Industri baja, semen, kimia, hingga petrokimia misalnya. Bukan hanya membutuhkan energi dalam jumlah besar, industri-industri tersebut juga menghasilkan gas rumah kaca dari proses kimia internalnya. 

 

Persoalannya di sini tidak terbatas pada penggunaan listrik dan bahan bakar saja. Karena karakter proses industrinya, dampaknya ke lingkungan juga lebih besar. 

 

4. Agrikultur dan Perubahan Penggunaan Lahan 

Carbon footprint juga bisa muncul dari aktivitas yang berkaitan dengan penggunaan lahan. Misalnya ketika hutan dibuka untuk kebutuhan industri atau bahan baku, kemampuan alam untuk menyerap karbon pun ikut berkurang. 

 

Pada saat yang sama, aktivitas di atas lahan tersebut juga turut menghasilkan emisi baru. Contohnya saja seperti aktivitas produksi, perkebunan, dan peternakan. Dampak negatifnya pun jadi berlipat. Di satu sisi penyerapan karbon berkurang, di sisi lain pelepasan karbon justru meningkat. 

 

5. Pola Konsumsi Modern dan Timbunan Limbah 

Harus diakui, gaya hidup dan pola konsumsi modern juga memberi tekanan tambahan pada industri. Permintaan pasar yang terus meningkat membuat produksi berjalan tanpa henti. 

 

Tren produk sekali pakai, hingga kebiasaan membuang barang dengan cepat, semuanya ikut menambah jejak emisi. Limbah organik yang menumpuk di tempat pembuangan akhir pun menghasilkan gas metana. Padahal, efek pemanasan metana ini bisa lebih kuat dibanding CO₂. 

 

Kenapa Peduli dengan Carbon Footprint? 

Sekilas, emisi gas rumah kaca mungkin terasa seperti isu yang jauh di sana. Padahal, dampaknya sudah mulai dirasakan. Jadi jika ditanya kenapa harus peduli, berikut beberapa alasan kenapa isu ini penting untuk diperhatikan. 

 

1. Memicu Pemanasan Global 

Saat gas rumah kaca menumpuk di atmosfer, panas bumi akan terperangkap. Akibatnya, suhu rata-rata meningkat sedikit demi sedikit. Secara angka, kenaikan suhu ini memang terlihat kecil. Akan tetapi, efeknya terasa besar pada iklim dan musim. 

 

2. Menyebabkan Perubahan Iklim yang Ekstrem 

Kenaikan suhu bumi membuat pola iklim jadi semakin tidak stabil. Hujan ekstrem, banjir besar, kekeringan berkepanjangan, atau gelombang panas yang intens semakin sering dijumpai. Perubahan ini jelas berpengaruh pada kehidupan manusia, mulai dari aktivitas ekonomi hingga ketahanan pangan. 

 

3. Memicu Pencairan Es Kutub dan Kenaikan Permukaan Laut 

Efek pemanasan global juga bisa dilihat dari pencairan es di wilayah kutub yang semakin cepat. Inilah yang membuat permukaan laut semakin tinggi dan mengancam wilayah pesisir serta pulau-pulau kecil. Dalam jangka panjang, risiko abrasi, tenggelamnya kawasan pesisir, hingga perpindahan penduduk secara besar-besaran bisa saja terjadi. 

 

4. Merusak Ekosistem dan Keanekaragaman Hayati 

Ekosistem alam sangat bergantung pada keseimbangan suhu dan iklim. Ketika kondisi berubah drastis, banyak spesies kehilangan habitatnya. Terumbu karang memutih, populasi hewan tertentu menurun, dan rantai makanan jadi terganggu. Pada akhirnya, manusia juga yang ikut merasakan dampaknya, lewat penurunan hasil tangkapan laut atau produksi pangan yang menurun. 

 

5. Mengancam Kualitas Hidup Manusia 

Dampak carbon footprint pada akhirnya akan kembali ke kehidupan manusia. Misalnya saja seperti ketersediaan air bersih yang menurun, meningkatnya risiko bencana, polusi yang membuat kesehatan terganggu, hingga ketahanan pangan terancam. Saat carbon footprint tidak ditekan, semua itu hanya tinggal menunggu waktu. 

 

Cara Mengurangi Carbon Footprint 

Mengurangi carbon footprint sebenarnya bukan tentang gerakan besar yang hanya bisa dilakukan oleh organisasi besar. Justru sebaliknya, penurunan emisi ini lahir dari kombinasi langkah kecil yang konsisten, baik oleh individu maupun perusahaan. Berikut gambaran praktisnya. 

 

Untuk Individu 

1. Mengubah Cara Menggunakan Energi di Rumah 

Banyak orang tidak sadar kalau kebiasaan kecil di rumah punya dampak besar terhadap carbon footprint. Untuk itu, mulailah dari hal sederhana seperti mematikan lampu dan peralatan listrik saat tidak digunakan, beralih ke lampu LED yang lebih hemat energi, dan memilih perangkat elektronik dengan fitur efisiensi daya. Semakin sedikit energi yang terbuang, semakin kecil pula emisi yang ikut tercipta. 

 

2. Mengadopsi Pola Transportasi yang Lebih Ramah Lingkungan 

Transportasi berbahan bakar fosil menyumbang emisi yang tidak sedikit. Karena itu, menggunakan transportasi umum, bersepeda, berjalan kaki, atau berbagi kendaraan bisa jadi pilihan yang jauh lebih bijak. Kalau memang memungkinkan, beralih ke kendaraan listrik juga bisa jadi solusi untuk menekan carbon footprint

 

3. Lebih Sadar dalam Memilih dan Mengonsumsi Makanan 

Apa yang Anda makan juga memengaruhi jejak karbon. Sebagai contoh, dengan mengurangi konsumsi daging merah, lebih sering memilih bahan makanan lokal, atau tidak membeli makanan secara berlebihan, semua itu bisa membantu menekan emisi dari proses produksi dan distribusi pangan. 

 

4. Mengurangi Sampah dan Memaksimalkan Penggunaan Barang 

Setiap barang yang Anda beli membutuhkan energi untuk diproduksi. Itu sebabnya, cara-cara seperti menggunakan barang secukupnya, memilih produk reusable dibanding sekali pakai, dan membiasakan diri mendaur ulang bisa membantu menekan timbunan sampah yang berpotensi menghasilkan emisi tambahan. 

 

5. Membangun Kebiasaan Hidup yang Lebih Sederhana dan Bertanggung Jawab 

Mengurangi carbon footprint pada dasarnya adalah tentang gaya hidup. Cara-cara sederhana seperti membeli barang sesuai kebutuhan dan merawat barang agar awet saja sudah punya dampak yang nyata. Perlahan namun pasti, kebiasaan-kebiasaan ini akan membentuk pola hidup yang lebih berkelanjutan. 

 

Untuk Perusahaan 

1. Menerapkan Efisiensi Energi di Seluruh Operasional 

Penggunaan energi adalah salah satu sumber carbon footprint terbesar di industri. Karena itu, perusahaan bisa mulai dari hal yang paling mendasar, seperti memastikan energi dipakai secara efisien. 

 

Di banyak perusahaan, praktik ini kini dipermudah dengan teknologi pemantauan energi berbasis IoT yang memungkinkan penggunaan listrik dipantau secara real-time. Dari sini, perusahaan bisa melihat titik pemborosan dan langsung melakukan perbaikan. 

 

2. Beralih ke Sumber Energi yang Lebih Bersih 

Jika memungkinkan, perusahaan bisa mulai mengintegrasikan energi terbarukan seperti panel surya atau bekerja sama dengan penyedia energi yang sudah mengadopsi sumber terbarukan. Peralihan ini memang tidak selalu bisa dilakukan sekaligus. Namun satu hal yang pasti, transisi bertahap tetap memberi dampak besar pada penurunan emisi jangka panjang. 

 

3. Mengelola Rantai Pasok dengan Lebih Berkelanjutan 

Carbon footprint perusahaan tidak hanya datang dari aktivitas internal tapi juga dari pemasok, logistik, hingga distribusi. Itu sebabnya, perusahaan perlu membangun ekosistem rantai pasok yang lebih hijau dengan memilih pemasok yang memiliki standar keberlanjutan, mengoptimalkan rute pengiriman agar lebih efisien bahan bakar, atau mengurangi kemasan yang berlebihan. Semakin rendah emisi di setiap mata rantai, semakin kecil juga total jejak karbon yang dihasilkan. 

 

4. Mengurangi Limbah dan Memaksimalkan Daur Ulang 

Pengelolaan limbah yang kurang tepat bisa memicu emisi tambahan. Untuk yang satu ini, perusahaan bisa mulai dengan memilah limbah dan memaksimalkan daur ulang. Pengurangan material sekali pakai dalam proses produksi maupun operasional kantor juga bisa jadi langkah yang cerdas. Selain berdampak baik bagi lingkungan, langkah ini juga bisa menurunkan biaya operasional. 

 

5. Mengembangkan Budaya Kerja yang Ramah Lingkungan 

Perusahaan bisa menumbuhkan budaya kerja yang peduli lingkungan dengan mendorong pegawai untuk hemat listrik, mengurangi penggunaan kertas, atau memilih transportasi yang lebih ramah lingkungan. Jika seluruh tim paham tujuan besarnya, upaya mengurangi carbon footprint akan terasa lebih alami. 

 

Mulai Efisiensi Energi dan Mengurangi Jejak Karbon Industri dengan Dukungan Teknologi IoT 

Sebelumnya sudah dibahas tentang bagaimana carbon footprint muncul dari berbagai sisi. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, contoh carbon footprint bisa ditemui lewat penggunaan listrik, transportasi, konsumsi digital, hingga barang-barang yang sehari-hari digunakan. Namun, emisi tidak akan berkurang jika tidak ada aksi. 

 

Semakin efisien energi yang digunakan, semakin kecil pula jejak emisi yang terbentuk. Bagi pelaku industri, langkah seperti efisiensi energi hingga optimasi operasional harus dipandang sebagai kebutuhan strategis. Di sinilah teknologi punya peran penting. Salah satunya melalui IoT Envion dari Telkomsel Enterprise. 

 

IoT Envion dari Telkomsel Enterprise adalah solusi monitoring energi berbasis IoT yang membantu perusahaan melihat penggunaan energi secara real-time, mengoptimalkan performa operasional, sekaligus menekan emisi dan pemborosan energi.  

 

Dengan visibilitas yang jelas, perusahaan bisa membuat keputusan berbasis data, meningkatkan efisiensi, dan tentu saja, berkontribusi pada pengurangan carbon footprint

TAGS
Blog

Situs kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan, Anda sudah menyetujui Syarat & Ketentuan dan Kebijakan Privasi yang berlaku.