6 Cara untuk Menghindari Pemborosan Energi dalam Industri
Blog
02 Feb 2026
Diperbarui pada 02 Feb 2026

Pemborosan energi sering terjadi tanpa disadari, terlebih dalam dunia industri. Padahal, dampak konsumsi energi yang terus melonjak tidak hanya terbatas pada naiknya biaya operasional. Ada dampak lain yang jauh lebih serius, yakni peningkatan emisi karbon yang dampaknya justru bisa jauh lebih serius bagi kesehatan dan lingkungan. 

 

Perbaikan tata kelola energi tidak bisa ditawar lagi. Tentunya, semua itu tidak mungkin bisa dilakukan tanpa monitoring. Dengan dukungan teknologi dan sistem peringatan otomatis, perusahaan memiliki kesempatan lebih besar untuk memaksimalkan konsumsi energi.  

 

Namun, sejauh mana strategi ini benar-benar efektif? Yuk, simak selengkapnya dalam ulasan berikut ini. 

 

Apa Dampak dari Pemborosan Energi? 

Pemborosan energi di sektor industri tidak bisa dianggap sekadar masalah efisiensi teknis. Dampaknya bisa jauh lebih luas. Jika dibiarkan, pemborosan energi bahkan bisa menciptakan risiko jangka panjang yang lebih sulit dikendalikan. Berikut beberapa dampak pemborosan energi yang perlu dipahami sejak awal. 

 

1. Biaya Operasional yang Terus Membengkak 

Konsumsi energi yang tidak terkontrol akan langsung tercermin pada biaya produksi. Semakin boros penggunaan listrik dan energi lainnya, semakin besar pula pengeluaran operasional yang harus ditanggung perusahaan. 

 

Dalam jangka pendek, kenaikan ini mungkin masih tertutup oleh volume produksi. Namun seiring waktu, biaya energi yang terus membesar akan menjadi beban tetap yang sulit ditekan.  

 

Jika kondisi ini dibiarkan, margin keuntungan perusahaan akan semakin tergerus dan ruang untuk berinvestasi menjadi terbatas. Perusahaan juga akan lebih rentan terhadap fluktuasi harga energi, karena setiap kenaikan tarif langsung berdampak pada biaya produksi. 

 

2. Peningkatan Emisi dan Dampak Lingkungan 

Sebagian besar pasokan listrik masih bergantung pada bahan bakar fosil. Ketika konsumsi energi meningkat secara berlebihan, emisi karbon yang dihasilkan pun ikut melonjak. Hal ini bisa memicu efek rumah kaca, polusi udara, bahkan sampai meningkatkan suhu global. 

 

3. Risiko Terjadinya Hujan Asam 

Pembakaran bahan bakar fosil dalam skala besar akan menghasilkan senyawa sulfur (SOx) dan nitrogen oksida (NOx) yang dapat memicu hujan asam. Fenomena ini bisa merusak ekosistem, mencemari sumber air, hingga mengganggu produktivitas pertanian. 

 

Bagi industri, dampak lanjutan ini sering kali luput dari perhitungan. Padahal, efeknya jangka panjang. 

 

4. Tekanan pada Jaringan Listrik Nasional 

Lonjakan konsumsi energi secara bersamaan, terutama saat produksi meningkat di banyak industri dapat membebani jaringan listrik. Akibatnya, risiko pemadaman, gangguan pasokan, hingga penyesuaian tarif listrik menjadi lebih tinggi. Kondisi ini bisa menciptakan ketidakpastian dalam perencanaan produksi. 

 

5. Ancaman Krisis Energi di Masa Depan 

Penggunaan energi yang boros dalam skala industri secara perlahan menggerus cadangan energi yang tersedia. Ketika konsumsi terus meningkat tanpa diimbangi efisiensi, risiko krisis energi menjadi semakin nyata.  

 

Dampaknya tidak hanya terbatas pada kelangkaan pasokan. Harga energi dipastikan meningkat, masalah ketidakstabilan distribusi juga semakin nyata. 

 

Perusahaan yang belum menyiapkan strategi pengelolaan energi sejak dini akan menjadi pihak paling terdampak, karena fleksibilitas operasionalnya terbatas. Sebaliknya, perusahaan yang lebih efisien dan memiliki kendali atas penggunaan energinya cenderung lebih tangguh menghadapi ketidakpastian di masa depan. 

 

Mengapa Industri Perlu Hemat Energi? 

Konsumsi energi yang tinggi sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari proses produksi. Seperti apa tata kelola yang dilakukan, itulah yang akan menentukan arah bisnis ke depan. Berikut beberapa alasan utama mengapa upaya menghemat energi penting bagi sektor industri. 

 

1. Mengendalikan Biaya Produksi dengan Lebih Efektif 

Dalam operasional industri, energi menjadi salah satu komponen biaya terbesar. Itulah kenapa penggunaan energi yang berlebihan akan langsung meningkatkan biaya produksi dan menekan profit. Dengan menerapkan strategi hemat energi, perusahaan dapat menurunkan pengeluaran rutin tanpa harus mengorbankan kapasitas atau kualitas produksi. 

 

2. Menjaga Stabilitas Bisnis di Tengah Fluktuasi Harga Energi 

Harga energi global cenderung tidak stabil dan sulit diprediksi. Industri yang boros energi akan lebih rentan terhadap lonjakan harga tersebut. Sebaliknya, perusahaan dengan sistem energi yang efisien akan lebih tahan dengan ketidakpastian karena ketergantungannya terhadap energi yang mahal bisa ditekan. 

 

3. Mengurangi Dampak Lingkungan dari Aktivitas Industri 

Tingginya konsumsi energi biasanya sejalan dengan meningkatnya emisi gas rumah kaca. Dengan menghemat energi, industri dapat berkontribusi langsung dalam menurunkan emisi karbon dan pencemaran udara. Selain positif bagi lingkungan, ini juga mendukung upaya dalam menghadapi perubahan iklim. 

 

4. Lebih Siap Menghadapi Regulasi dan Tuntutan Keberlanjutan 

Arah kebijakan pemerintah dan standar internasional semakin jelas mendorong praktik industri yang berkelanjutan, termasuk target Net Zero Emission. Industri yang lebih awal menerapkan efisiensi energi umumnya lebih mudah menyesuaikan diri dengan regulasi. Tidak hanya itu, citra perusahaan yang bertanggung jawab dan visioner juga akan ikut terbentuk. 

 

Penyebab Adanya Peningkatkan Energi Saat Proses Produksi 

Kenaikan konsumsi energi dalam industri sering dianggap wajar, terlebih saat aktivitas produksi meningkat. Namun jika ditelusuri lebih dalam, lonjakan energi ini biasanya dipicu oleh beberapa faktor operasional yang saling berkaitan.  

 

Tanpa pengelolaan yang tepat, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi pemborosan energi yang sulit dikendalikan. Berikut beberapa penyebab utama meningkatnya penggunaan energi saat proses produksi berlangsung. 

 

1. Intensitas Operasional Mesin yang Semakin Tinggi 

Saat permintaan pasar meningkat, mesin produksi cenderung dioperasikan lebih lama atau dengan kapasitas yang lebih besar. Mesin utama, motor penggerak, kompresor, hingga sistem pendukung lainnya membutuhkan suplai listrik yang lebih besar ketika bekerja secara intensif. Itulah yang menyebabkan konsumsi energi meningkat seiring dengan durasi dan beban kerja mesin yang bertambah. 

 

2. Beban Tambahan pada Sistem Pendinginan dan Pencahayaan 

Banyak sektor industri membutuhkan pengaturan suhu yang stabil untuk menjaga kualitas produk. Ketika volume produksi naik, sistem pendingin harus bekerja lebih keras dan lebih lama. Di sisi lain, penambahan jam operasional atau shift kerja juga meningkatkan kebutuhan pencahayaan di area produksi, yang secara otomatis ikut menambah penggunaan energi. 

 

3. Perpanjangan Jam Operasional dan Penambahan Shift Kerja 

Untuk mengejar target produksi, perusahaan kerap menerapkan lembur atau membuka shift tambahan. Kondisi ini membuat mesin, peralatan listrik, dan fasilitas pendukung beroperasi hampir tanpa jeda. Semakin panjang waktu operasional, semakin besar pula energi yang dikonsumsi, terutama jika tidak diimbangi dengan pengaturan penggunaan energi yang efisien. 

 

4. Minimnya Pengelolaan dan Pemantauan Efisiensi Energi 

Peningkatan produksi sering terjadi dalam situasi mendesak. Tidak heran, aspek efisiensi energi kurang menjadi prioritas.  

 

Mesin digunakan apa adanya, alur produksi tidak diatur secara optimal, dan pemantauan konsumsi energi tidak dilakukan secara real-time. Kombinasi ini membuat energi terpakai lebih banyak dari yang seharusnya, bahkan tanpa disadari oleh pengelola industri. 

 

Cara Menghindari Pemborosan Energi Dalam Industri Manufaktur 

Pemborosan energi sering kali terjadi akibat kebiasaan kecil yang dibiarkan berulang. Mesin tetap menyala meski tidak optimal, energi dipakai tanpa pemantauan yang jelas, dan keputusan diambil tanpa data yang akurat.  

 

Padahal, industri manufaktur memiliki peluang besar untuk menekan konsumsi energi sekaligus meningkatkan efisiensi operasional. Untuk menghindari pemborosan energi, berikut beberapa langkah strategis yang dapat diterapkan. 

 

1. Mengidentifikasi Titik Konsumsi Energi yang Tidak Efisien 

Mulai dengan mencari tahu mesin atau peralatan mana yang menyerap energi paling besar namun tidak memberikan output sebanding. Evaluasi performa mesin secara berkala akan membantu tim teknis mendeteksi penurunan efisiensi. Dengan mengidentifikasi peralatan yang performanya sudah menurun atau tidak sesuai dengan kebutuhan produksi saat ini, perusahaan juga dapat menentukan apakah perlu dilakukan penyesuaian, perbaikan, atau upgrade ke teknologi yang lebih efisien. 

 

2. Menjalankan Program Maintenance Secara Konsisten 

Peralatan yang jarang dirawat cenderung bekerja lebih berat dan mengonsumsi energi lebih besar. Dengan jadwal perawatan yang terencana, mesin dapat beroperasi pada kondisi optimal. Pemeriksaan rutin pada sistem HVAC, kompresor, dan pencahayaan juga membantu mencegah kebocoran energi yang sering tidak terlihat. 

 

3. Membangun Kesadaran Energi di Kalangan Karyawan 

Upaya penghematan energi tidak akan efektif tanpa keterlibatan sumber daya manusia. Operator dan karyawan perlu memahami dampak dari penggunaan energi yang tidak efisien serta peran mereka dalam mengendalikannya. Edukasi dan sosialisasi mengenai pentingnya penggunaan energi yang bijak membuat mereka lebih peka terhadap kebiasaan yang berpotensi menimbulkan pemborosan, terutama dalam pengoperasian mesin dan fasilitas pendukung. 

 

4. Mengatur Beban Energi pada Waktu Tertentu 

Konsumsi energi biasanya melonjak pada jam-jam sibuk produksi. Dengan memantau penggunaan energi saat peak time, perusahaan dapat mengatur ulang jadwal operasional mesin berdaya besar agar tidak berjalan bersamaan. Strategi ini akan membantu menekan biaya sekaligus mengurangi tekanan pada sistem kelistrikan. 

 

5. Memonitor Penggunaan Energi Secara Real-Time 

Pemantauan energi secara real-time menjadi kunci penting dalam menghindari pemborosan di industri manufaktur. Melalui sistem monitoring energi digital, data konsumsi dapat dikumpulkan dan dianalisis langsung dari berbagai titik produksi. 

 

Informasi ini memungkinkan manajemen dan operator mengambil keputusan cepat ketika terjadi lonjakan energi yang tidak wajar. Jadi, potensi pemborosan dapat dicegah sebelum berdampak lebih besar. 

 

6. Melakukan Audit dan Perencanaan Energi Secara Berkala 

Audit energi membantu perusahaan memahami pola penggunaan energi secara menyeluruh, termasuk area yang paling boros dan potensi penghematannya. Dari hasil audit, perusahaan dapat menyusun strategi pengelolaan energi yang lebih tepat, mulai dari penjadwalan mesin, penggantian peralatan, hingga investasi pada teknologi yang lebih efisien. 

 

Saatnya Mengendalikan Energi dalam Operasional Industri dengan Dukungan IoT 

Pemborosan energi dalam industri sering kali bermula dari hal-hal yang terlihat sepele, seperti mesin yang menyala lebih lama dari kebutuhan atau sistem pendingin yang bekerja tanpa pemantauan. Contoh pemborosan energi semacam ini, jika terjadi terus-menerus, akan berdampak besar pada biaya operasional, emisi karbon, hingga ketahanan bisnis. Di sinilah pentingnya pengelolaan energi yang cerdas dan terukur. 

 

Dengan memonitor penggunaan energi secara real-time, perusahaan dapat mengetahui pola konsumsi dan mendeteksi pemborosan sejak dini. Anda juga bisa mengambil tindakan cepat sebelum kerugian membesar. 

 

Manfaatnya pun sangat nyata, mulai dari biaya operasional lebih terkendali, emisi karbon berkurang, dan daya saing juga turut meningkat. Lebih dari itu, Anda juga turut berkontribusi terhadap target Net Zero Emission

 

Untuk mewujudkan hal tersebut, perusahaan dapat mengandalkan IoT Envion dari Telkomsel Enterprise. Solusi ini memungkinkan pemantauan energi secara real-time melalui dashboard terintegrasi yang dilengkapi fitur pengawasan jarak jauh dan pengaturan alarm. Dengan visibilitas yang lebih baik, keputusan bisnis dapat diambil berbasis data, bukan asumsi. 

 

Untuk informasi lebih lanjut, konsultasikan bagaimana IoT Envion dapat mendukung efisiensi energi dalam operasional perusahaan Anda di sini

TAGS
Blog

Situs kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan, Anda sudah menyetujui Syarat & Ketentuan dan Kebijakan Privasi yang berlaku.