8 Cara Menerapkan Energy Management System yang Efisien
Blog
09 Jan 2026
Diperbarui pada 09 Jan 2026

Pengelolaan energi tidak lagi dapat dilakukan secara konvensional atau berdasarkan estimasi semata, melainkan perlu pendekatan berbasis data dan teknologi. Di sinilah, Anda memerlukan Sistem Manajemen Energi atau Energy Management System (EMS) yang tepat. Sistem ini memungkinkan perusahaan memahami bagaimana energi digunakan, di mana terjadinya pemborosan, serta langkah apa yang dapat diambil untuk meningkatkan efisiensi tanpa mengorbankan produktivitas.  

 

Selain itu, penerapan Energy Management System yang tepat bukan hanya membantu menekan biaya operasional, tetapi juga memperkuat daya saing perusahaan dalam jangka panjang. Selengkapnya tentang apa itu Energy Management System, apa saja manfaatnya, dan bagaimana cara penerapan EMS di perusahaan Anda, simak penjelasan di bawah ini! 

 

Apa Itu Energy Management System (EMS)? 

Energy Management System (EMS) adalah sistem terintegrasi berbasis perangkat keras dan perangkat lunak yang digunakan untuk memonitor, menganalisis, mengontrol, dan mengoptimalkan konsumsi energi dalam suatu fasilitas atau jaringan. Sistem ini mengumpulkan data energi dari berbagai titik atau perangkat, mengolahnya melalui platform analitik, dan memberikan rekomendasi hingga tindakan otomatis untuk meningkatkan efisiensi energi. 

 

Semakin kompleks proses industri, arsitektur bangunan, dan aktivitas operasional, perusahaan pun semakin membutuhkan sistem yang tidak hanya mencatat penggunaan energi, tetapi juga mampu memberikan insight strategis. EMS tidak hanya mencatat angka, melainkan juga membantu perusahaan Anda mengambil keputusan berdasarkan data real-time. 

 

Dalam jangka panjang, penerapan Energy Management System dapat meningkatkan profitabilitas, memperkuat kepatuhan terhadap standar energi internasional seperti ISO 50001, serta meningkatkan citra perusahaan sebagai organisasi yang peduli terhadap keberlanjutan. 

 

Intinya, EMS akan membantu Anda mendapatkan visibilitas penuh terhadap pola konsumsi energi, mendeteksi anomali, serta memetakan potensi penghematan energi yang sebelumnya sulit teridentifikasi secara manual. 

 

Komponen Energy Management System 

Agar Energy Management System dapat berjalan optimal, diperlukan berbagai komponen yang memiliki fungsi spesifik tetapi saling terintegrasi dalam rantai pengelolaan energi. Komponen tersebut di antaranya: 

 

  • Sensor Energi 

Sensor energi berfungsi untuk mendeteksi parameter kelistrikan atau energi seperti arus, tegangan, daya, dan faktor daya. Sensor ini dipasang di titik-titik strategis untuk memperoleh data penggunaan energi secara akurat. 

 

  • Pengukuran Energi (Energy Metering) 

Perangkat metering digunakan untuk mengukur konsumsi energi secara kuantitatif. Data dari energy meter menjadi dasar utama dalam analisis efisiensi dan evaluasi kinerja energi. 

 

  • Energy Management Software 

Energy management software merupakan inti dari Energy Management System. Perangkat lunak ini mengolah data mentah dari sensor dan meter menjadi informasi yang mudah dipahami melalui dashboard, grafik, dan laporan analitis. 

 

  • Data Acquisition System (DAS) 

Data Acquisition System berfungsi mengumpulkan data dari berbagai sensor dan meter dalam interval waktu tertentu. DAS juga memastikan data dikumpulkan secara konsisten dan siap dikirim ke sistem pusat. 

 

  • IoT Gateway atau Controller 

Salah satu komponen utama yang menjadi penghubung antara perangkat lapangan dan platform EMS. Peranannya terletak pada agregasi data, konversi protokol, serta pengiriman data ke server atau cloud. 

 

  • Sistem Kontrol dan Otomatisasi 

Sistem kontrol memungkinkan pengaturan perangkat secara otomatis berdasarkan kondisi tertentu. Misalnya, mematikan peralatan saat beban rendah atau menyesuaikan penggunaan energi berdasarkan jadwal operasional. 

 

  • Jaringan Komunikasi 

Jaringan komunikasi, baik kabel maupun nirkabel, diperlukan untuk memastikan data dapat dikirim dari perangkat lapangan ke platform EMS. Dalam hal ini, kualitas jaringan sangat memengaruhi keakuratan monitoring real-time

 

  • Penyimpanan Data Konsumsi Energi 

Data konsumsi energi disimpan dalam basis data untuk kebutuhan analisis historis, audit energi, dan pelaporan jangka panjang. Penyimpanan ini biasanya berbasis on-premise maupun cloud. 

 

  • Reporting & Analytics Tools 

Komponen yang digunakan untuk menyusun laporan kinerja energi, analisis tren, serta rekomendasi peningkatan efisiensi. Reporting dan analytic tools juga membantu manajemen memahami data energi secara strategis, bukan sekadar operasional. 

 

Jenis-jenis Energy Management System 

 Berikut beberapa jenis Energy Management System yang umum digunakan: 

 

1. Industrial Energy Management System 

Diterapkan  dalam sektor manufaktur, pertambangan, petrokimia, dan industri berat lainnya. Sistem ini fokus pada: 

 

  • Konsumsi energi mesin produksi 

  • Pengaturan motor industri 

  • Optimalisasi proses pemanasan, pendinginan, dan tekanan 

  • Deteksi anomali produksi yang berdampak energi 

 

2. Building Energy Management System (BEMS) 

Umumnya diterapkan pada gedung perkantoran, rumah sakit, sekolah, pusat perbelanjaan, dan hotel. Fokus utamanya meliputi: 

 

  • Sistem HVAC (pendingin dan ventilasi) 

  • Pencahayaan otomatis 

  • Pengendalian lift dan eskalator 

  • Pengelolaan beban listrik pada jam puncak 

 

3. Transport Energy Management System 

Digunakan untuk mengelola energi kendaraan, armada logistik, dan transportasi publik. Termasuk sistem: 

 

  • Manajemen konsumsi bahan bakar 

  • Monitoring kendaraan elektrik 

  • Pengoptimalan rute perjalanan 

  • Pengendalian armada untuk efisiensi energi 

 

4. Home Energy Management System (HEMS) 

Diterapkan pada rumah pintar untuk mengelola: 

 

  • Penggunaan AC dan perangkat rumah tangga 

  • Manajemen panel surya rumah 

  • Pengaturan lampu otomatis 

  • Penggunaan daya berbasis IoT 

 

Bagaimana Cara Kerja Energy Management System? 

Energy Management System (EMS) bekerja melalui rangkaian proses terintegrasi yang dirancang untuk memastikan pengelolaan energi berjalan secara berkelanjutan, akurat, dan berbasis data. Setiap tahapan saling terhubung dan membentuk siklus manajemen energi berikut: 

 

  • Pengumpulan Data 

Proses dimulai dengan pengumpulan data konsumsi energi dari sensor dan energy meter yang terpasang di berbagai titik. 

 

  • Pengiriman Data ke Gateway atau Controller 

Data yang telah dikumpulkan kemudian dikirim ke IoT gateway atau controller untuk diproses awal dan disiapkan untuk transmisi ke platform EMS. 

 

  • Penyimpanan dan Pemrosesan Data di Platform EMS 

Data dikirim ke platform Energy Management System di mana data tersebut disimpan, divalidasi, dan diproses menggunakan algoritma tertentu. 

 

  • Monitoring dan Visualisasi Real-Time 

Platform EMS menampilkan data dalam bentuk dashboard real-time sehingga pengguna dapat melihat kondisi penggunaan energi secara langsung. 

 

  • Analisis dan Rekomendasi Efisiensi 

Berdasarkan data yang terkumpul, sistem melakukan analisis untuk menemukan pola, anomali, dan potensi pemborosan energi lalu memberikan rekomendasi efisiensi. 

 

  • Kontrol Otomatis 

Pada sistem yang lebih canggih, EMS dapat mengaktifkan kontrol otomatis untuk menyesuaikan penggunaan energi sesuai parameter yang telah ditetapkan. 

 

  • Pelaporan dan Audit Energi 

Data historis digunakan untuk menyusun laporan kinerja energi dan mendukung proses audit energi secara berkala. 

 

Langkah-Langkah untuk Menerapkan EMS 

Implementasi EMS bukan sekadar pemasangan teknologi, melainkan proses manajemen yang melibatkan aspek teknis, operasional, dan sumber daya manusia. Agar penerapan Energy Management System berjalan efektif, diperlukan langkah-langkah strategis yang terencana seperti: 

 

  • Melakukan Audit Energi 

Audit energi merupakan fondasi awal dalam penerapan EMS. Pada tahap ini, perusahaan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pola konsumsi energi di seluruh fasilitas, termasuk gedung, peralatan, mesin, dan proses operasional. Audit bertujuan untuk mengidentifikasi sumber pemborosan energi, tingkat efisiensi peralatan, serta peluang penghematan yang paling potensial. 

 

Hasil audit energi juga memberikan gambaran awal mengenai baseline konsumsi energi yang akan digunakan sebagai pembanding dalam implementasi EMS selanjutnya. Dengan pemahaman kondisi awal yang akurat, Anda dapat merancang strategi pengelolaan energi yang lebih tepat sasaran. 

 

  • Menentukan Tujuan dan KPI Energi 

Setelah audit energi dilakukan, langkah berikutnya yaitu menetapkan tujuan dan indikator kinerja utama (Key Performance Indicators/KPI) energi. Tujuan ini harus dirumuskan secara jelas, terukur, realistis, dan selaras dengan strategi bisnis perusahaan. Selain itu, penetapan tujuan dan KPI yang tepat akan memudahkan proses pemantauan kinerja EMS secara berkelanjutan. 

 

Contoh tujuan EMS adalah menurunkan konsumsi energi sebesar persentase tertentu, mengurangi biaya energi tahunan, atau menekan emisi karbon. Sedangkan KPI energi dapat berupa intensitas energi per unit produksi, konsumsi energi per meter persegi, atau faktor daya rata-rata.  

 

  • Mengembangkan Strategi Efisiensi Energi 

Strategi efisiensi energi disusun berdasarkan hasil audit energi dan target yang telah ditentukan. Strategi ini mencakup pendekatan teknis serta aspek operasional. Dalam pendekatan teknos, Anda mengganti peralatan boros energi, mengoptimalkan sistem HVAC, dan  meningkatkan kualitas isolasi bangunan. Dalam aspek operasional, coba lakukan  penjadwalan penggunaan peralatan dan perubahan prosedur kerja. 

 

Pada tahap ini, perusahaan Anda juga dapat menyusun roadmap implementasi EMS yang mencakup prioritas program, estimasi investasi, serta proyeksi manfaat jangka pendek dan jangka panjang. Intinya, strategi yang terstruktur akan membantu memastikan bahwa setiap inisiatif efisiensi energi memberikan dampak maksimal. 

 

  • Memasang Sensor dan Perangkat Metering 

Pemasangan sensor dan perangkat metering merupakan tahap penting untuk memastikan ketersediaan data energi yang akurat dan real-time. Sensor dipasang pada titik-titik kritis seperti panel distribusi listrik utama, mesin produksi, sistem pencahayaan, dan peralatan berdaya besar. 

 

Data yang dihasilkan oleh sensor dan meter ini menjadi dasar bagi seluruh fungsi EMS, mulai dari monitoring hingga analisis. Oleh karena itu, pemilihan perangkat yang tepat dan penempatan  strategis sangat menentukan keberhasilan sistem secara keseluruhan. 

 

  • Memasang IoT Gateway dan Sistem Komunikasi 

Agar data dari sensor dapat dikirimkan ke platform EMS, Anda perlu menyiapkan IoT gateway dan infrastruktur komunikasi yang andal. Gateway berfungsi sebagai penghubung yang mengumpulkan data dari berbagai perangkat dan meneruskannya ke sistem pusat. 

 

Sementara itu, sistem komunikasi dapat menggunakan jaringan kabel maupun nirkabel seperti Ethernet, Wi-Fi, atau jaringan seluler. Keandalan jaringan menjadi faktor kunci agar data dapat dikirimkan secara konsisten tanpa gangguan sehingga proses monitoring dan analisis dapat berjalan optimal. 

 

  • Konfigurasi dan Integrasi dengan Platform EMS 

Setelah infrastruktur perangkat keras siap, tahap selanjutnya yaitu konfigurasi sistem dan integrasi dengan platform EMS. Pada tahap ini, parameter sistem, struktur data, serta hak akses pengguna ditetapkan sesuai kebutuhan organisasi. 

 

Integrasi juga mencakup penggabungan EMS dengan sistem lain yang telah ada. Misalnya Building Management System (BMS), sistem produksi, atau sistem keuangan. Integrasi yang baik memungkinkan perusahaan memperoleh gambaran menyeluruh mengenai konsumsi energi dan dampaknya terhadap operasional bisnis. 

 

  • Mengedukasi dan Melibatkan Karyawan 

Keberhasilan implementasi Energy Management System sangat bergantung pada keterlibatan sumber daya manusia. Itu artinya karyawan perlu diberikan edukasi dan pelatihan mengenai pentingnya efisiensi energi, cara membaca data EMS, serta peran mereka dalam mendukung target energi perusahaan. 

 

Kesadaran dan partisipasi karyawan juga membantu memastikan bahwa rekomendasi dan kebijakan efisiensi energi dijalankan secara konsisten di lapangan. Dengan melibatkan karyawan secara aktif, EMS tidak hanya menjadi sistem teknologi, tetapi juga bagian dari budaya kerja.  

 

  • Monitoring dan Evaluasi 

Tak hanya menerapkan semua tahapan dengan benar, Anda juga perlu memantau kinerja energi secara rutin. Caranya melalui dashboard EMS, membandingkan hasil aktual dengan target KPI, serta mengidentifikasi deviasi yang perlu ditindaklanjuti. 

 

Evaluasi berkala memungkinkan Anda menyesuaikan strategi, memperbarui target, dan mengembangkan inisiatif baru sesuai dengan perubahan kebutuhan bisnis. Melalui pendekatan berkelanjutan ini, Energy Management System dapat terus memberikan nilai tambah dan mendukung efisiensi energi jangka panjang. 

 

IoT Evion: Solusi Energy Management System Terpadu dari Telkomsel Enterprise   

Penerapan Energy Management System yang efisien merupakan langkah strategis bagi perusahaan yang ingin mengendalikan biaya energi, meningkatkan kinerja operasional, dan memenuhi tuntutan keberlanjutan. Dalam tahap implementasinya. teknologi IoT berperan dalam pengelolaan energi menjadi lebih transparan, terukur, dan adaptif terhadap perubahan kebutuhan bisnis. 

 

Itu sebabnya Telkomsel Enterprise menghadirkan solusi terintegrasi melalui IoT Envion. IoT Envion dari Telkomsel Enterprise memberikan monitoring konsumsi energi secara real-time, pengukuran yang akurat, serta insight berbasis data untuk mendukung pengambilan keputusan strategis. Didukung oleh jaringan luas dan platform yang aman dari Telkomsel, IoT Envion akan membantu perusahaan Anda mengoptimalkan penggunaan energi secara berkelanjutan. 

 

Saatnya optimalkan pengelolaan energi di perusahaan Anda bersama IoT Envion dari Telkomsel Enterprise. Hubungi Telkomsel Enterprise untuk mendukung efisiensi dan pertumbuhan bisnis Anda sekarang juga!   

TAGS
Blog

Situs kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan, Anda sudah menyetujui Syarat & Ketentuan dan Kebijakan Privasi yang berlaku.