Telkomsel | 26 Juni 2020
4 shares

Potensi Pemanfaatan Teknologi 5G untuk Transformasi Digitalisasi Industri di Indonesia

Terus Berinovasi di Era Digitalisasi dalam Masa Pandemi

Pada awal 1780-an, James Watt memperkenalkan mesin uap yang mampu digunakan dengan baik untuk kegiatan produksi di pabrik hingga proses pemintalan dan penggilingan. Bak gayung bersambut, para pelaku bisnis kala itu beramai-ramai menggunakan mesin uap tersebut. Hasil karya James Watt pun menandai industrialisasi besar-besaran, mulai dari Britania Raya hingga di seluruh dunia, yang kemudian dicatat dalam buku sejarah sebagai Revolusi Industri 1.0.

 

Tahun demi tahun, industri terus bergerak maju, bahkan bisa dibilang makin kencang melaju. Pada akhir abad ke-19, Revolusi Industri 2.0 dimulai, dengan penerapan tenaga listrik di dalam kegiatan produksi menjadi salah satu faktor pendorong terbesar. Kemudian, giliran Revolusi Industri 3.0 mulai berlangsung pada abad ke-20, yang ditandai dengan komputerisasi dan digitalisasi di dalam industri.

 

Kini, kita sudah ada di Revolusi Industri 4.0. Otomatisasi melalui integrasi teknologi terkini memungkinkan industri berada di level yang lebih tinggi lagi saat ini. Lantas, bagaimana inovasi-inovasi terbaru mampu mentransformasi industri sedemikian rupa?

 

Seminar daring ketiga dari “The NextDev Hub X Huawei Webinar Series” yang diselenggarakan pada Selasa, 23 Juni 2020, punya jawabannya. Webinar yang mengangkat tema “5G+ Accelerate Industry Transformation” tersebut menjelaskan peran 5G dan teknologi lainnya dalam mengakselerasi Revolusi Industri 4.0.

 

Menggali Kemampuan 5G

Apa yang membuat 5G menjadi istimewa? Ia disebut sebagai teknologi jaringan seluler pertama yang memiliki peran besar bagi industri secara luas. Bahkan, ada anggapan bahwa manfaatnya akan lebih besar bagi industri ketimbang konsumen. Untuk membahasnya lebih lanjut, Senior Consultant Huawei Chen Kang, pembicara dalam seminar daring ketiga dari “The NextDev Hub X Huawei Webinar Series”, menjelaskan skenario penggunaan 5G secara menyeluruh.

 

Ada tiga aspek di dalam skenario tersebut, yaitu Enhance Mobile Broadband (eMBB), Ultra-Reliable and Low Latency Communications (uRLLC), dan Massive Machine Type Connections (mMTC). Implementasi eMBB salah satunya adalah meningkatkan kecepatan streaming video dengan kualitas 4K hingga 8K. Pada uRLLC, beberapa inovasi seperti mobil otonom dan pengendalian jarak jauh menjadi implementasi dari skenario tersebut. Sedangkan smart city dan shared bike merupakan contoh penggunaan 5G melalui mMTC.

 

Teknologi 5G sendiri dibangun di atas spektrum yang memiliki bandwidth sekitar 100 MHz, atau kurang lebih lima kali lipat dari 4G. Dari situ, 5G memiliki kemampuan yang bisa dibilang luar biasa, seperti kecepatan lebih dari 1 Gbps, latensi 1 ms, dan mampu terhubung hingga ke 1 juta perangkat per kilometer persegi. Maka dari itu, skenario penggunaan 5G pun dapat lebih luas dibanding pendahulunya.

 

Penerapan 5G di Berbagai Sektor

Terdapat beragam contoh implementasi 5G di berbagai belahan dunia yang mampu mendorong Revolusi Industri 4.0. Chen pun menjelaskan sejumlah penerapan 5G di berbagai sektor yang sama sekali berbeda, yakni di bidang penyiaran, kesehatan, dan keamanan.

 

Di dalam kegiatan penyiaran, 5G mampu memberikan efisiensi dalam menjalankan siaran langsung. Berbekal kamera yang tersambung dengan 5G CPE (customer-premises equipment), atau semacam router, perusahaan penyiaran bisa melakukan siaran langsung tanpa perlu menggunakan truk produksi tradisional. Hal tersebut tentunya bisa menghemat jumlah tenaga kerja yang dapat dialokasikan ke bagian lain.

 

Baca Juga: Mencari Talenta Digital Indonesia

 

Kemudian, teknologi jaringan seluler kelima itu juga bisa melakukan transformasi di bidang kesehatan. Salah satu contohnya, 5G mampu memungkinkan dilakukannya operasi secara jarak jauh, baik itu bagi manusia maupun untuk hewan. Bahkan, operasi jarak jauh tersebut bisa dilakukan di dalam mobil ambulans yang terhubung dengan teknologi 5G, sehingga berpotensi untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa di masa depan.

 

Transformasi yang dilakukan 5G pun turut menyasar ke sektor keamanan. Chen menjelaskan bahwa teknologi 5G yang dipadukan dengan augmented reality mampu mewujudkan kacamata canggih untuk menunjang kegiatan petugas keamanan seperti polisi. Beberapa kemampuan yang dimiliki oleh perangkat tersebut di antaranya adalah pendeteksi wajah, pengenalan nomor plat kendaraan dan identitas diri, hingga merekam kejadian yang dilihat oleh petugas.

 

Melangkah Lebih Jauh lewat 5G+

Teknologi 5G memang menawarkan konektivitas yang mumpuni, namun ia tidak bisa mendorong Revolusi Industri 4.0 sendirian. Maka dari itu istilah 5G+ muncul, yang berarti teknologi jaringan seluler kelima itu perlu dipadukan dengan teknologi lain untuk menciptakan inovasi yang lebih baik.

 

Salah satunya adalah memadukan 5G dengan 4G. Masih ingat dengan penjelasan eMBB, uRLLC, mMTC di atas? Usut punya usut, 3GPP selaku organisasi yang mengatur standar teknologi seluler secara global baru menetapkan standardisasi untuk implementasi eMBB. Maka dari itu, 5G masih memerlukan 4G dalam masa transisi standardisasi dua aspek lainnya, khususnya mMTC karena 4G sudah mendukung teknologi NB-IoT dalam menjalankan smart city.

 

5G+ lainnya terwujud melalui kombinasi antara 5G dengan teknologi terkini lainnya seperti artificial intelligence, cloud, big data, dan edge computing, atau biasa dikelompokkan menjadi AICDE. Perpaduan 5G dengan AICDE mampu menghasilkan pengembangan yang lebih berarti di berbagai perangkat dan teknologi lainnya, mulai dari drone, robot, augmented reality, virtual reality, dan video berkualitas tinggi.

 

Dari situ, maka akan muncul solusi-solusi yang berkelanjutan di berbagai sektor, mulai dari energi, agrikultura, pendidikan, keuangan, kesehatan, hiburan, pengendalian lalu lintas, hingga pengembangan smart city dan smart factory. Salah satu contohnya bisa kita lihat di sektor hiburan. Perpaduan antara 5G dengan cloud dapat menghasilkan solusi cloud gaming yang diprediksi akan menjadi masa depan industri game secara global.

 

Potensi 5G di Indonesia

Saat ini, konektivitas 5G memang belum tersedia di Tanah Air. Meski demikian, Chen optimis Indonesia mampu menerapkan 5G dengan tepat guna. Baginya, untuk menuju ke sana, yang perlu diperhatikan oleh para pemangku kepentingan di Indonesia dalam menggelar layanan 5G di Indonesia adalah memastikan kualitas dari konektivitas 5G itu sendiri.

 

Upaya yang bisa dilakukan untuk menghadirkan kualitas terbaik dari 5G adalah dengan memastikan ketersediaan spektrum 2,6 GHz sebagai spektrum yang paling ideal bagi penerapan teknologi jaringan seluler kelima tersebut. Selain itu, bandwidth yang dimiliki pun paling tidak berada di angka 100 Mhz agar manfaat 5G bisa dirasakan secara maksimal. Menurut Chen, jika kapasitasnya tidak sebesar itu, dikhawatirkan kualitas 5G yang digelar akan tidak jauh berbeda dari pendahulunya, yakni 4G.

 

Indonesia memang perlu fokus dalam pengembangan teknologi tersebut karena potensinya yang besar, salah satunya dari segi bisnis. Asosiasi Penyelenggara Jasa Telekomunikasi Indonesia (ATSI) memperkirakan nilai bisnis 5G di Tanah Air mampu mencapai 27 triliun rupiah per tahun. Prediksi tersebut pun diperkuat dengan riset dari AT Kearney pada 2019 lalu yang menyebut monetisasi 5G oleh operator di dalam negeri dapat mencapai 1,83 juta dolar AS pada 2025.

 

Baca Juga: Terus Berinovasi di Era Digitalisasi dalam Masa Pandemi

 

Besarnya potensi kontribusi 5G terhadap transformasi industri di Tanah Air pun nantinya dapat dimanfaatkan dengan maksimal oleh para startup, pelaku bisnis, dan penggiat ekosistem digital untuk terus berinovasi dan menjadi roda penggerak kemajuan Revolusi Industri 4.0 di Indonesia. Pasalnya, sebagaimana disebutkan di atas, 5G tidak bisa berjalan sendirian untuk menciptakan perubahan. Dibutuhkan talenta-talenta berkualitas yang mampu memadukan 5G dengan teknologi lainnya untuk menciptakan solusi praktis.

 

Bagaimana, menarik bukan penjelasan di atas? Buat kamu yang ingin lebih tahu tentang perkembangan teknologi terkini, tenang, “The NextDev Hub X Huawei Webinar Series” masih memiliki delapan sesi webinar menarik yang patut untuk disimak.

 

Sesi selanjutnya dari “The NextDev Hub X Huawei Webinar Series” akan diselenggarakan pada Selasa, 7 Juli 2020, pukul 13.00 - 16.00 WIB, dengan topik “Roads to Cloud Business”. Di samping itu, The NextDev Hub juga punya kegiatan menarik lainnya, yaitu The NextDev Hub Virtual Talks, sebuah diskusi panel yang akan diselenggarakan pada Selasa, 30 Juni 2020, dengan Andy F. Noya (Founder BenihBaik) dan M. Alfatih Timur (CEO Kitabisa) akan menjadi pembicara pada acara tersebut.

 

Butuh informasi lebih lanjut mengenai kegiatan-kegiatan menarik tersebut? Langsung saja akses akun media sosial resmi The NextDev berikut ini:

 

Instagram: https://instagram.com/thenextdev

Twitter: https://twitter.com/the_nextdev 

Facebook: https://facebook.com/thenextdev 


Related Blogs