Tanggal 28 Januari diperingati sebagai Hari Pengurangan Emisi CO2 Internasional sebagai ajakan masyarakat global akan pentingnya aksi pengurangan emisi karbon dioksida, yang menjadi salah satu penyebab utama pemanasan global dan perubahan iklim.
Momentum ini tidak hanya mendorong perubahan gaya hidup individu agar lebih ramah lingkungan, tetapi juga mengajak komunitas, pelaku industri, hingga negara untuk mengambil peran dalam mengurangi jejak karbon, menjaga kualitas udara, serta mencegah bencana alam akibat krisis iklim.
Emisi karbon dioksida (CO2) dihasilkan dari berbagai aktivitas sehari-hari, mulai dari penggunaan kendaraan bermotor, pembangkitan listrik berbahan bakar fosil, aktivitas industri, hingga konsumsi energi rumah tangga. Saat jumlah CO2 di atmosfer meningkat, gas ini akan memerangkap panas dan memicu efek rumah kaca.
Dalam jangka panjang, dampaknya bisa sangat merugikan, seperti peningkatan suhu bumi, perubahan iklim ekstrem, kenaikan permukaan air laut, menurunnya kualitas udara, dan rusaknya ekosistem dan keanekaragaman hayati.
Negara yang Berhasil Turunkan Emisi Karbon
Di tengah berbagai upaya dunia mengurangi emisi karbon, ternyata ada sejumlah negara yang berhasil turunkan emisi CO2, bahkan ada yang mencapai net zero, lho! Yuk, simak beberapa negara yang berhasil menjadi contoh inspiratif bagi negara lain dalam menjaga bumi tetap hijau dan bersih [1].
- Bhutan
Bhutan seringkali jadi contoh unik dalam pembahasan emisi karbon global. Meski tetap menghasilkan emisi CO2 sekitar ±2,1 ton per kapita per tahun, negara kecil di kawasan Himalaya ini justru dikenal sebagai negara carbon-negative. Artinya, jumlah gas rumah kaca yang diserap Bhutan lebih besar dibandingkan yang dilepaskannya.
Rahasia Bhutan ada pada hutannya. Lebih dari 70% wilayah negara ini tertutup hutan, yang berfungsi sebagai penyerap karbon alami. Bahkan, perlindungan lingkungan sudah tertulis langsung di konstitusi Bhutan, yang mewajibkan minimal 60% wilayahnya tetap berhutan selamanya. Dengan kebijakan ini, Bhutan bukan hanya menekan emisi, tapi juga aktif “membersihkan” udara dari kerbon berlebih.
2. Denmark
Berbeda dengan Bhutan, Denmark adalah negara maju dengan aktivitas industri dan konsumsi energi yang tinggi. Meski begitu, negara ini tetap masuk dalam daftar berkat komitmennya yang serius dalam menekan emisi karbon. Emisi CO2 per kapita Denmark tercatat sekitar ±5,6 ton per orang per tahun.
Angka tersebut relatif lebih tinggi dibanding negara berkembang, namun Denmark menebusnya lewat strategi jangka panjang. Negara ini dikenal dengan pelopor energi bersih, khususnya tenaga angin, serta konsisten mendorong praktik pertanian berkelanjutan.
Berkat upaya tersebut, Denmark dinobatkan sebagai salah satu negara paling ramah lingkungan di dunia pada tahun 2022, sekaligus menjadi contoh bagaimana negara maju bisa tetap tumbuh tanpa perlu mengorbankan lingkungan.
- Suriname
Suriname punya modal alam yang luar biasa. Sekitar 93% wilayah negaranya masih berupa hutan, menjadikannya salah satu penyerap karbon terbesar di dunia. Nggak heran kalau Suriname sering disebut sebagai negara dengan emisi karbon bersih negatif, karena jumlah karbon yang diserap hutannya jauh melampaui emisi yang dihasilkan.
Meski tergolong negara kecil, Suriname cukup serius menghadapi isu perubahan iklim. Pemerintahnya tengah menyusun peta jalan iklim nasional dan menargetkan lebih dari 35% energi terbarukan pada 2030. Selain itu, Suriname juga mulai mengembangkan pertanian ramah lingkungan dengan memanfaatkan biomassa sebagai sumber energi alternatif.
4. Ghana
Ghana termasuk negara dengan emisi CO2 per kapita yang sangat rendah, yakni sekitar ±0,7 ton per orang per tahun, jauh di bawah rata-rata global. Rendahnya emisi ini dipengaruhi oleh struktur ekonomi yang masih bertumpu pada sektor pertanian dan konsumsi energi yang relatif kecil.
Meskipun begitu, Ghana sudah menetapkan target Net Zero Emission pada 2060, dengan fokus pada transisi energi, pengembangan energi terbarukan, dan efisiensi penggunaan sumber daya. Langkah ini menunjukkan bahwa negara berkembang pun bisa menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan kepedulian terhadap lingkungan.
Lalu, Bagaimana dengan Emisi Karbon di Indonesia?
Sebagai negara berkembang dengan jumlah penduduk besar, Indonesia memang menghadapi tantangan dalam mengendalikan emisi karbon, terutama dari sektor energi, transportasi, dan industri. Namun, di balik tantangan tersebut, Indonesia juga punya komitmen jangka panjang yang jelas melalui target Indonesia Net Zero Emission (NZE) 2060.
Indonesia Net Zero Emission 2060 merupakan komitmen pemerintah untuk mencapai kondisi di mana jumlah emisi gas rumah kaca yang dihasilkan setara dengan jumlah emisi yang diserap oleh alam atau teknologi. Artinya, pada tahun 2060 atau lebih cepat, emisi karbon Indonesia diharapkan bisa ditekan hingga nol secara bersih.
Tujuan utama dari target NZE 2060 ini adalah untuk menekan dampak perubahan iklim, menjaga keberlanjutan lingkungan, serta memastikan pembangunan ekonomi tetap berjalan tanpa mengorbankan masa depan bumi. Untuk mencapainya, pemerintah mendorong berbagai langkah strategis, mulai dari transisi energi bersih, pengembangan energi terbarukan, efisiensi, hingga perlindungan dan pemulihan hutan sebagai penyerap karbon alami.
Dengan potensi hutan tropis yang luas, keanekaragaman hayati yang tinggi, serta sumber energi terbarukan yang melimpah, Indonesia sebenarnya memiliki modal kuat untuk mencapai target tersebut.
Kuncinya ada pada kolaborasi semua pihak, termasuk pelaku industri, komunitas, hingga masyarakat untuk bersama-sama mewujudkan Indonesia yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Yuk, Kontribusi Lewat Telkomsel Jaga Bumi
Sebagai bagian dari komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan, Telkomsel Jaga Bumi turut mengambil peran dalam upaya pengurangan emisi karbon. Salah satu inisiatifnya adalah program Carbon Offset melalui penanaman pohon mangrove di sejumlah wilayah Indonesia, berkolaborasi dengan Jejakin.
Pada fase 2023-2025, Telkomsel berhasil menanam lebih dari 37 ribu pohon jenis Rhizopora (bakau), cemara laut, durio zibethinus (pohon durian), dan kopi robusta di berbagai wilayah Indonesia mencakup Pulau Jawa, Bali, dan Sumatera.
Selain itu, program ini juga melibatkan pelanggan agar bisa berkontribusi secara langsung. Pelanggan Telkomsel juga dapat berpartisipasi dalam program Carbon Offset dari Telkomsel Jaga Bumi dengan cara isi pulsa, membeli paket internet, dan melakukan transaksi lainnya di aplikasi MyTelkomsel dan by.U.
Nantinya, poin yang terkumpul dari hasil transaksi di MyTelkomsel atau aplikasi by.U bisa kamu tukar dan konversikan untuk mendukung program penanaman pohon sebagai langkah nyata mengurangi emisi karbon di Indonesia.
Dari aksi sederhana ini, kamu sudah ikut ambil peran menjaga bumi. Yuk, mulai berkontribusi dan cari tahu selengkapnya di www.telkomsel.com/promo/JagaBumi.
Selamat Hari Pengurangan Emisi CO2 Internasional!