BAGIKAN

3 Startup Ini Punya Solusi Atasi Masalah Lingkungan Hidup

Article
3 Startup Ini Punya Solusi Atasi Masalah Lingkungan Hidup

3 Startup Ini Punya Solusi Atasi Masalah Lingkungan Hidup

3 Startup Ini Punya Solusi Atasi Masalah Lingkungan Hidup

Salah satu misi penting yang harus dimiliki oleh pelaku startup adalah bagaimana usahanya mampu memberikan dampak sosial dan perubahan terhadap masyarakat sekitar. Kehadiran startup diharapkan bisa menghadirkan solusi yang mampu menjawab berbagai masalah yang ada di masyarakat, termasuk di bidang lingkungan hidup.

Lembaga Greenpeace Indonesia mencatat setidaknya ada empat permasalahan lingkungan yang ada di Indonesia, seperti rusaknya terumbu karang, sampah plastik yang menumpuk, terkikisnya hutan, hingga pencemaran udara. Di sinilah startup lingkungan --dikenal juga dengan istilah EnviroTech-- berperan memberikan edukasi dan solusi agar bersama-sama dapat membangun lingkungan yang lebih baik.

Paling tidak, ada tiga startup yang memiliki semangat untuk menjadikan lingkungan hidup di sekitar kita jadi lebih baik lagi. Siapa saja mereka? Langsung saja yuk kita kenalan!

Baca Juga: 3 Startup Edutech Ini Siap Majukan Pendidikan di Indonesia

Duitin

Tidak semua jenis sampah mudah bisa atau dimusnahkan secara alami. Ada beberapa jenis sampah yang sulit terurai, tapi punya nilai tambah apabila didaur ulang. Berangkat dari permasalahan itu, Duitin mencoba untuk meningkatkan kesadaran akan isu lingkungan dan membiasakan masyarakat untuk daur ulang sampah.

Buat kamu yang belum tahu, Duitin merupakan singkatan dari “Daur Ulang Itu Ini”. Dijelaskan oleh Chief Operation Officer Duitin Adijoyo Prakoso, Duitin yang berdiri sejak Februari 2019 merupakan aplikasi digital yang membantu masyarakat untuk mendaur ulang barang tidak terpakai atau sampah.

Dari pemaparan Adijoyo, hanya sekitar 1,2 persen masyarakat Indonesia atau rumah tangga yang melakukan daur ulang sampahnya. Padahal, cukup banyak masyarakat yang terinspirasi dari media sosial untuk melakukan daur ulang sampah. Hanya saja mereka tidak tahu bagaimana caranya.

“Kami ingin menciptakan kesadaran dan mengubah kebiasaan masyarakat agar lebih sadar lingkungan. Kami juga ingin memberikan insentif secara ekonomi kepada masyarakat yang berkontribusi dalam daur ulang sampah,” terangnya.

Duitin memungkinkan masyarakat untuk menyerahkan sampah daur ulang yang ada di rumahnya untuk ditukarkan reward berupa koin. Koin tersebut nantinya dapat dipakai untuk pembelian pulsa prabayar, paket data, hingga token listrik. Buat kamu yang tertarik, Duitin sudah bisa diunduh melalui aplikasi Android dan iOS.

Izifill

Hampir serupa dengan Duitin, Izifill merupakan startup yang memiliki upaya untuk mengurangi pencemaran lingkungan dari limbah botol plastik. Adapun cara yang dilakukan Izifill adalah dengan menyediakan water station atau stasiun pengisian air berbasis IoT (Internet of Things) yang dapat dioperasikan tanpa sentuhan.

Mungkin sebagian dari kita sudah sadar bahwa sampah botol plastik saat ini sudah semakin menggunung. Kita juga mungkin sadar bahwa salah satu cara untuk mencegah bertambahnya sampah botol plastik adalah dengan membawa botol minum yang bisa digunakan berulang kali. Namun pertanyaan berikutnya yang muncul adalah: di manakah saya bisa mengisi ulang air minum?

Berangkat dari pertanyaan tersebut, CEO Izifill Ichsan Mulia bersama tim menciptakan inovasi water station. Dengan demikian, masyarakat kini tidak perlu lagi untuk membeli air minum dengan kemasan botol plastik. Cukup membawa botol minum atau tumbler dari rumah lalu mengisi airnya melalui water station Izifill yang wujudnya seperti dispenser. Pengguna dapat memilih air minum panas atau dingin. Guna mengurangi risiko terpapar COVID-19, water station ini dapat dioperasikan tanpa sentuhan langsung, cukup dengan menggunakan smartphone.

Adapun kelebihan dari mengisi ulang air minum di water station Izifill adalah harganya yang lebih terjangkau ketimbang membeli botol minuman plastik. Kamu bisa menggunakan layanan Izifill dengan mengunduh aplikasi Refill My Bottle di Android dan iOS.

Baca Juga: Deretan Startup HealthTech yang Bikin Akses Layanan Kesehatan Jadi Lebih Terjangkau

Uglykultur

Tahukah kamu kalau dari 1.000 kg hasil panen buah hanya 100 kg yang diterima oleh supermarket? Tidak semua buah yang dipanen bisa dijual di supermarket, karena buah-buahan yang ditemui di supermarket biasanya sudah melalui proses sortir berlapis yang cukup ketat.

“Permasalahannya adalah karena sebagian besar hasil panen tidak memenuhi kriteria estetika. Padahal kualitas dan rasanya tidak jauh berbeda, hanya fisiknya saja yang jelek,” terang Raka Pradana, Pendiri Uglykultur. Menurut Raka, ada beberapa penyebab hasil panen jelek, di antaranya ugly produce atau jelek dari pohon, off-spec atau akibat proses panen dan distribusi, dan surplus atau hasil panen melebihi kebutuhan pasar.

Buah-buahan yang memiliki kualitas buruk hanya dari segi fisik ini kemudian menimbulkan permasalahan, yakni food waste yang jumlahnya sekitar 20 persen dari keseluruhan hasil panen. Maka dari itu, Uglykultur pun berusaha untuk memberikan solusi yang lebih konkret, yakni menyalurkan hasil panen dalam kondisi fisik tidak sempurna kepada para pemilik usaha yang membutuhkan sebagai bahan dasar mereka, di antaranya penjual jus, yoghurt, selai, salad, dan lainnya.

Para pemilik UMKM yang ingin membeli buah-buahan dengan kualitas baik tapi tampilan kurang menarik tersebut dapat mengunjungi website dan media sosial.

Baca Juga: 3 Startup Digital Economy Ini Bantu UMKM Naik Kelas

Ketiga startup yang disebutkan di atas merupakan bagian dari 12 startup yang masuk ke fase Grand Final National Pitching The NextDev Talent Scouting 2020 yang digelar oleh Telkomsel. Informasi lebih lanjut mengenai The NextDev dan seluruh inisiatifnya dapat diakses di thenextdev.id atau media sosial @thenextdev.

Related Blogs