Upaya meningkatkan minat baca masyarakat tanah air berkaitan erat dengan kelestarian sastra Indonesia. Sejak zaman dulu, banyak tokoh sastrawan Indonesia melahirkan karya-karya luar biasa yang jadi warisan bagi generasi penerus.
Kekayaan tersebut tentu tak boleh dibiarkan hilang begitu saja, melainkan patut dijadikan inspirasi bagi kemunculan karya sastra modern di masa kini. Salah satu cara paling efektif untuk mewujudkan hal tersebut adalah mengenal lebih dalam tentang sosok sastrawan Indonesia serta karyanya yang legendaris.
Sastra Indonesia bukan sekadar sekumpulan karya tulis hasil pemikiran pujangga. Lebih dari itu, peranan sastra Indonesia sangat penting karena berkaitan dengan beberapa hal berikut ini:
Pembahasan seputar perkembangan sastra di tanah air tentu tak lengkap tanpa mengulas sejumlah sastrawan Indonesia zaman dulu, yaitu:
Siapa sih yang tak kenal dengan karya sastra populer Indonesia yang bertajuk Siti Nurbaya. Marah Roesli adalah sosok penulis di balik cerita fenomenal tersebut. Sastrawan asal Padang yang lahir tahun 1889 ini mendapat julukan Bapak Roman Modern Indonesia karena karya-karyanya yang berbentuk roman, antara lain La Hami, Memang Jodoh, serta Anak dan Kemenakan.
Nama Mochtar Lubis tak hanya dikenal sebagai jurnalis, melainkan juga penulis novel kawakan yang lama malang melintang di dunia sastra Indonesia. Pria kelahiran tahun 1922 ini memiliki banyak karya istimewa yang tak lekang dimakan waktu, antara lain Manusia Merdeka, Senja di Jakarta, Jalan Tak Ada Ujung, dan Harimau! Harimau!
Meskipun wafat di usia sangat muda, karya-karya Chairil Anwar nyatanya tetap dikenang hingga sekarang. Pria kelahiran tahun 1922 yang wafat di usia 27 tahun ini diperkirakan telah menulis 96 karya semasa hidupnya, termasuk 70 puisi. Selain puisi berjudul Aku yang sampai kini dijadikan referensi sastra, masih banyak karya terkenal Chairil Anwar, seperti Deru Campur Debu, Tiga Menguak Takdir, Derai-Derai Cemara, dan Krawang-Bekasi.
Kekayaan sastra Indonesia tentu tak lepas dari keberadaan karya-karya tulis kontroversial seperti yang dibuat oleh Pramoedya Ananta Toer. Sejumlah tulisan yang dihasilkan pria kelahiran tahun 1925 ini sempat dilarang pada orde baru karena dianggap mengancam keutuhan ideologi Pancasila. Kendati demikian, ide-ide brilian yang berhasil dituangkan dalam bentuk tulisan itu masih abadi hingga saat ini. Beberapa karya istimewa Pramoedya Ananta Toer yang memotivasi sastrawan era modern, antara lain Bumi Manusia, Jejak Langkah, Rumah Kaca, dan Gadis Pantai.
Tokoh sastrawan Indonesia lainnya yang terkenal karena karya-karyanya abadi adalah Wilibrordus Surendra Broto Narendra atau yang lebih dikenal dengan W.S. Rendra. Penyair kelahiran tahun 1935 ini memperoleh julukan “Si Burung Merak” karena penampilannya ketika mendeklamasikan sajak senantiasa memukau. Deretan karya puisi Rendra yang masih terus diminati hingga kini, antara lain Balada Orang-Orang Tercinta, Panembahan Reso, dan Sajak-Sajak Sepatu Tua.
Sosok sastrawan Indonesia yang serba bisa ini kerap menulis berbagai jenis karya, seperti novel, cerpen, esai, hingga skenario film dan sinetron. Pria kelahiran Bali tahun 1944 ini juga merupakan sosok pendiri Teater Mandiri dengan gaya post-modern yang eksentrik. Beberapa karya besar Putu Wijaya yang sampai sekarang masih hangat dibicarakan dan dijadikan referensi sastra, bertajuk Bila Malam Bertambah Malam, Keok, Ramadhan dan Ramona, dan Telegram.
Bukan hanya teknologi yang berkembang mengikuti perubahan zaman, tapi juga sastra. Perkembangan sastra Indonesia di masa kini tak lepas dari nama-nama tokoh besar, seperti:
Indonesia juga patut berbangga hati karena punya penyair hebat bernama Taufiq Ismail yang mewarnai dunia sastra dengan rangkaian kata-kata indahnya. Selain dikenal sebagai penyair, pria kelahiran tahun 1935 ini juga pernah berprofesi sebagai aktivis dan editor majalah sastra. Kumpulan karyanya telah banyak dibukukan dan laris manis di pasaran, antara lain Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, Tirani dan Benteng, serta Debu di Atas Debu.
Dunia sastra Indonesia seakan didominasi kaum adam meskipun sebenarnya banyak pula tokoh besar dari kalangan perempuan, salah satunya yaitu N.H. Dini. Wanita yang bernama lengkap Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin ini berhasil menggambarkan pemberontakan kaum wanita dari belenggu konvensional yang membatasi ruang gerak. Beberapa karya populernya yang tak lekang oleh waktu, antara lain Pada Sebuah Kapal, Pertemuan Dua Hati, dan Hati yang Damai.
Deretan karya besarnya di dunia sastra Indonesia membuat nama Sapardi Djoko Darmono masih harum dan dikenang hingga hari ini. Sastrawan Indonesia kelahiran tahun 1940 ini merupakan penyair dengan ciri khas pemilihan kata sederhana dengan tema sehari-hari tetapi dipenuhi makna mendalam. Beberapa tulisan Sapardi Djoko Darmono yang kekal dan dicintai para penikmat sastra, antara lain Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari Nanti, Yang Fana Adalah Waktu, dan Aku Ingin.
Perkembangan zaman yang berlangsung pesat sedikit banyak tentu berpengaruh pada dunia sastra tanah air. Pergerakan tersebut memicu lahirnya karya sastra kontemporer dengan pendekatan dari sisi isu sosial, budaya, serta politik. Jenis sastra ini dianggap relevan dengan kehidupan masyarakat sehingga lebih mudah dinikmati semua kalangan.
Tak jarang pula sastra kontemporer menjadi alat untuk mengkritik permasalahan sosial yang tak kunjung mencapai titik temu. Hingga saat ini, Indonesia memiliki cukup banyak tokoh sastrawan kontemporer yang konsisten dengan karya-karya lugas, seperti Djenar Maesa Ayu, Dewi (Dee) Lestari, Joko Pinurbo, Sujiwo Tejo, dan Ibrahim Sattah.
Saat ini, kamu bisa memuaskan ketertarikan terhadap dunia sastra Indonesia secara lebih mudah dengan mengakses banyak informasi dan membeli buku dari internet. Itulah sebabnya dukungan koneksi internet cepat dan berkualitas dari IndiHome sangat esensial untuk mendukung minatmu.
Mari cari tahu info lengkap tentang paket internet IndiHome yang paling sesuai dengan kebutuhanmu. Berlangganan IndiHome kini makin praktis karena kamu bisa memilih dan mendaftarkan diri melalui aplikasi MyTelkomsel.
Short Video baru dan seru