Setiap tahun, Hari Kartini sering dirayakan dengan cerita inspiratif tentang perempuan hebat. Namun, di dunia bisnis hari ini, inspirasi saja tidak lagi cukup.
Pertanyaan yang lebih relevan adalah apakah sistem dalam organisasi sudah benar-benar membuka jalan bagi perempuan untuk tumbuh, memimpin, dan berkontribusi secara penuh?
Di tengah meningkatnya standar ESG (Environmental, Social, Governance), isu kesetaraan -termasuk women empowerment- tidak lagi menjadi narasi tambahan. Ia telah menjadi bagian dari bagaimana perusahaan membangun keberlanjutan, menjaga daya saing, dan mengelola talenta secara strategis.
Perusahaan kini tidak hanya dinilai dari apa yang mereka katakan, tetapi dari bagaimana sistem mereka bekerja. Apakah peluang benar-benar terbuka? Apakah talenta berkembang secara adil? Dan apakah kebijakan yang ada mampu menjaga keberlanjutan karier dalam jangka panjang?
Realitas ini tidak hanya terlihat dalam laporan atau angka, tetapi juga dalam pengalaman sehari-hari di dalam organisasi. Salah satunya tercermin dari perjalanan Tari Ustami, Officer Mass Broadband Product di Telkomsel.
Sebuah Langkah Karier Baru di Telkomsel
Bagi Tari, perubahan itu dimulai dari satu keputusan sederhana. Ia mengambil langkah ke peran baru.
Hari pertama di divisi baru hampir selalu punya rasa tersendiri. Ada gugup yang wajar, ekspektasi yang harus segera dipenuhi, dan banyak hal yang harus dipahami dalam waktu singkat.
Perpindahan Tari bukan sekadar ganti meja kerja, melainkan lompatan karier yang membutuhkan kesiapan matang dan keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Tari mengambil tanggung jawab baru yang belum sepenuhnya familiar, sekaligus menantang dirinya untuk berkembang lebih jauh.
Langkah tersebut tidak terjadi begitu saja. Tari memanfaatkan program Internal Job Posting (IJP), jalur resmi yang membuka peluang lintas divisi secara transparan dan berbasis kompetensi, bukan berdasarkan kedekatan personal.
Di sinilah cerita Tari menjadi lebih dari sekadar kisah individu, ia adalah cerminan nyata bagaimana prinsip ESG diimplementasikan. Sistem yang adil membuka jalan bagi talenta untuk berkembang dan memberi dampak nyata.
Inklusivitas Bukan Sekadar Kata-Kata
Jika melihat lebih luas, realitas di banyak ruang rapat perusahaan di Indonesia, masih menunjukkan kesenjangan yang nyata. Kursi untuk perempuan di level kepemimpinan belum merata.
Masalahnya bukan pada kurangnya niat, tetapi pada belum terintegrasinya inklusivitas ke dalam sistem operasional sehari-hari. Padahal, dalam kerangka ESG khususnya pada pilar “Sosial”, women empowerment sudah menjadi variabel strategis yang berdampak langsung. Tanpa keberagaman perspektif, bisnis kehilangan kecepatan adaptasi, kualitas pengambilan keputusan melambat, dan daya saing jangka panjang terkikis.
Ketika sistem tidak dirancang dengan adil, talenta terbaik akan terus terhambat. Dan yang rugi bukan hanya individu, melainkan performa bisnis secara keseluruhan.
Ketika Sistem Dirancang untuk Mendukung
Telkomsel melihat bahwa kesetaraan tidak bisa hanya mengandalkan niat. Ia perlu dibangun lewat ekosistem yang saling terhubung dan benar-benar bisa dijalankan.
Salah satunya melalui Women@Telkomsel, inisiatif yang berfokus pada pengembangan talenta perempuan melalui tiga pilar: learning, mentoring, dan well-being. Program ini tidak hanya memberikan akses pembelajaran, tetapi juga mempercepat kesiapan perempuan untuk mengambil peran kepemimpinan.
Sepanjang 2024, lebih dari 300 perempuan aktif berpartisipasi dalam program ini. Partisipasi tidak berhenti pada keterlibatan saja, tetapi berkontribusi langsung pada penguatan pipeline kepemimpinan internal dan terciptanya ekosistem pengembangan yang lebih terstruktur.
Namun, pengembangan saja tidak cukup tanpa akses peluang. Di sinilah Internal Job Posting (IJP) berperan sebagai penghubung, jalur resmi yang pernah dilalui Tari untuk berpindah divisi. Secara lebih luas, IJP memastikan peluang terbuka bagi siapa pun, termasuk perempuan, untuk mengambil langkah serupa.
Sementara itu, kebijakan parental leave menjadi bagian penting lain dalam ekosistem ini. Dengan cuti melahirkan hingga 90 hari dan tingkat kembali bekerja mencapai 99,77%, perusahaan memastikan bahwa perjalanan karier perempuan tidak terputus di tengah jalan.
Perempuan tidak hanya diberi pintu masuk, tetapi juga ruang aman untuk terus bertumbuh, berkontribusi, dan bertahan jangka panjang.
Angka yang Bicara Lebih Keras dari Klaim
Dalam Sustainability Report 2024, pendekatan berbasis ESG ini terlihat jelas melalui data. Telkomsel mencatat bahwa 22,84% dari total 6.216 karyawan adalah perempuan. Menariknya, 41,09% rekrutan baru di tahun yang sama juga berasal dari talenta perempuan.
Artinya, upaya memperkuat representasi tidak berhenti di satu titik. Pipeline talenta terus dibangun.
Lebih jauh lagi, kesetaraan juga tercermin dalam aspek fundamental, yaitu remunerasi. Berdasarkan standar GRI 405-2, rasio gaji laki-laki dan perempuan untuk peran yang sama telah mencapai 1:1.
Ke depan, Telkomsel juga menargetkan 15% perempuan di posisi manajerial pada 2030, langkah penting untuk memastikan keberagaman hadir di level pengambilan keputusan.
Semua ini menunjukkan bahwa implementasi ESG, khususnya pada aspek sosial, tidak berhenti pada komitmen saja, tetapi benar-benar diterjemahkan menjadi sistem yang terukur dan berdampak.
Standar Baru Dimulai dari Pilihan
Kisah Tari Ustami mengingatkan kita bahwa peluang memang bisa dibuka, tetapi sistemlah yang menentukan siapa saja yang benar-benar bisa mengaksesnya.
Dalam konteks ESG, ini menjadi pembeda antara perusahaan yang sekadar memiliki program seremonial dan perusahaan yang benar-benar membangun ekosistem inklusif. Telkomsel telah membuktikan bahwa women empowerment dapat dirancang sebagai strategi bisnis yang terukur, didukung oleh program, kebijakan, dan metrik yang saling terkait.
Di momen Hari Kartini ini, pertanyaannya bukan lagi apakah kesetaraan itu penting, tetapi apakah organisasi sudah menjadikannya sebagai standar?
Karena pada akhirnya, ketika perempuan tumbuh dalam sebuah perusahaan, yang ikut bertumbuh bukan hanya karier individu, melainkan bisnis itu sendiri.