Dulu, mungkin banyak perusahaan menganggap keamanan data hanya sebatas memasang password dan berharap semua data kerahasiaan aman. Namun, seiring perkembangan zaman yang makin canggih, keamanan tingkat lanjut diperlukan untuk melindungi data perusahaan.
Perlindungan data tidak lagi cukup hanya dengan password dan dicadangkan. Karena saat penjahat siber semakin canggih, enkripsi adalah fondasi penting yang menjadi garis pertahanan utama perlindungan data.
Apa Itu Enkripsi?
Sebelum membahas lebih jauh soal enkripsi end to end, ada baiknya untuk memahami dulu konsep dasar enkripsi. Enkripsi sendiri pada dasarnya adalah teknik mengubah data yang semula bisa dibaca menjadi format yang acak dan tidak masuk akal bagi siapa pun yang tidak punya izin.
Hasil perubahan ini disebut ciphertext, yakni sekumpulan karakter yang tampak seperti kode acak tanpa pola. Hanya dengan proses dekripsi dan kunci yang tepat, data tersebut bisa dikembalikan ke bentuk aslinya.
Teknik ini bisa dipakai untuk menjaga keamanan data, baik saat disimpan maupun saat berpindah dari satu perangkat ke perangkat lain. Mulai dari pesan teks, dokumen penting, sampai rekaman suara, semuanya bisa dienkripsi agar tidak mudah disadap.
Perlu dicatat, enkripsi ini berbeda dengan tokenisasi. Tokenisasi mengganti data asli dengan “token” yang tidak punya hubungan matematis dengan informasi sumbernya. Sementara itu, enkripsi masih memiliki pola tertentu yang bisa dikembalikan ke bentuk awal selama ada kuncinya.
Dua teknik ini sama-sama penting dalam keamanan data. Hanya saja, keduanya bekerja dengan tujuan dan mekanisme yang berbeda.
Cara Kerja Enkripsi
Setelah memahami apa itu enkripsi, pertanyaan berikutnya adalah. Bagaimana sebenarnya cara kerja enkripsi?
Secara sederhana, enkripsi memanfaatkan sesuatu yang disebut kunci kriptografi. Ini merupakan serangkaian karakter yang berfungsi sebagai alat untuk mengubah data asli menjadi bentuk acak yang sulit dipahami.
Saat data dikirimkan, pengirim menggunakan kunci untuk mengunci informasi, sementara penerima membutuhkan kunci yang sesuai untuk membukanya kembali melalui proses dekripsi. Dalam praktiknya, ada dua pendekatan yang sering digunakan.
1. Sistem Public Key
Pada sistem ini ada dua kunci yang digunakan, yakni public key dan private key. Sesuai dengan namanya, public key adalah kunci yang bersifat publik dan boleh dibagikan. Di sisi lain, ada kunci lain yang bersifat privat dan hanya disimpan oleh penerima.
Public key digunakan untuk mengenkripsi data. Untuk membukanya, digunakanlah private key. Pendekatan ini biasanya digunakan untuk pertukaran informasi jarak jauh yang membutuhkan keamanan tinggi.
2. Sistem Private Key
Pada sistem private key, hanya ada satu kunci untuk proses enkripsi dan dekripsi. Metode ini cenderung lebih cepat. Akan tetapi, pengelolaannya harus hati-hati karena kedua pihak harus menyimpan kunci yang sama dalam kondisi aman.
Fungsi dan Manfaat Enkripsi
Perlu diingat, enkripsi punya peran yang jauh lebih luas dari sekadar mengacak data. Bagi perusahaan, teknologi ini membantu menjaga informasi agar tetap aman dan hanya bisa diakses oleh pihak yang berwenang saja. Berikut beberapa fungsi dan manfaatnya bagi perusahaan:
1. Menjaga Kerahasiaan Informasi Sensitif
Enkripsi memastikan data penting, seperti laporan keuangan, data pelanggan, hingga dokumen strategis hanya bisa dibaca oleh pemilik kuncinya. Jadi, kalau pun data tersebut dicuri atau dicegat di tengah perjalanan, yang terlihat hanyalah kumpulan karakter acak tanpa arti.
2. Melindungi Privasi Pengguna dan Karyawan
Informasi pribadi seperti data kesehatan, alamat, foto, atau pesan internal perusahaan perlu perlindungan ekstra. Dengan enkripsi, semua itu disembunyikan dari pihak luar yang tidak berkepentingan. Bahkan ketika komunikasi melewati jaringan yang tidak aman, isi datanya terkunci dan tidak dapat dibaca.
3. Mencegah Penyadapan dan Intersepsi Data
Aksi penyadapan jaringan, misalnya melalui Wi-Fi publik masih menjadi ancaman yang nyata. Enkripsi membuat upaya tersebut sia-sia karena data yang tertangkap hanya berupa kode acak. Protokol seperti HTTPS, TLS, dan SSL sudah menjadi standar utama untuk mengamankan komunikasi daring, termasuk email, pesan perkantoran, hingga transaksi bisnis.
4. Memastikan Keaslian dan Integritas Data
Selain menjaga kerahasiaan, enkripsi juga mendukung penggunaan tanda tangan digital dan fungsi hash. Teknik ini memungkinkan perusahaan memverifikasi apakah suatu dokumen telah diutak-atik atau dimodifikasi tanpa izin. Dengan begitu, setiap file, email, atau kontrak digital bisa dipastikan keasliannya sebelum diproses lebih lanjut.
5. Melindungi Komunikasi Bisnis Sehari-hari
Aplikasi chat, email bisnis, hingga video meeting kini banyak mengandalkan enkripsi untuk memastikan percakapan tetap aman. Fitur enkripsi end-to-end membuat pesan internal perusahaan tidak bisa disadap bahkan oleh penyedia layanannya sendiri. Ini sangat penting untuk perusahaan yang sering bertukar informasi penting melalui media digital.
6. Mengurangi Kerugian Saat Terjadi Kebocoran Data
Saat insiden kebocoran data terjadi, data terenkripsi tidak bisa digunakan oleh pelaku. Potensi kerugian dan rusaknya reputasi pun bisa ditekan. Itulah kenapa ada banyak organisasi besar memasukkan enkripsi sebagai bagian dari strategi mitigasi risiko. Secara jangka panjang, strategi ini juga dinilai lebih hemat biaya.
7. Meningkatkan Kepercayaan Pelanggan dan Mitra
Perusahaan yang menunjukkan komitmen terhadap keamanan data biasanya lebih dipercaya. Ketika bisnis secara transparan menerapkan enkripsi end-to-end atau sertifikat keamanan tertentu, pelanggan akan merasa lebih aman menitipkan informasi mereka.
Jenis-Jenis Enkripsi
Untuk memahami bagaimana enkripsi menjaga data perusahaan tetap aman, Anda perlu mengenal dua pendekatan utama yang digunakan dalam dunia kriptografi. Keduanya bekerja dengan konsep kunci, tetapi cara penggunaannya berbeda cukup jauh. Berikut penjelasannya.
1. Enkripsi Simetris (Symmetric Encryption)
Jenis enkripsi yang satu ini menggunakan satu kunci yang sama untuk dua proses sekaligus, yakni mengenkripsi dan mendeskripsi data. Mekanismenya sederhana. Pengirim dan penerima harus berbagi kunci rahasia terlebih dahulu sebelum bertukar informasi.
Bagaimana cara kerjanya?
-
Pengirim dan penerima memiliki satu kunci rahasia yang identik.
-
Pengirim mengenkripsi data menggunakan kunci tersebut.
-
Data yang sudah terenkripsi dikirim melalui jaringan.
-
Penerima membuka kembali data itu menggunakan kunci yang sama.
Kelebihan utama enkripsi simetris ada pada kecepatannya. Karena prosesnya tidak rumit, enkripsi simetris sangat cocok untuk data berukuran besar atau proses yang butuh performa tinggi, misalnya enkripsi file di cloud storage internal perusahaan. Akan tetapi, cara ini punya kelemahan, yakni pada distribusi kuncinya. Jika kuncinya sampai bocor, keamanan data otomatis terancam.
2. Enkripsi Asimetris (Asymmetric Encryption)
Kalau enkripsi simetris hanya menggunakan satu kunci, beda dengan enkripsi asimetris. Jenis enkripsi ini menggunakan dua kunci berbeda namun saling terkait secara matematis:
-
Public key (kunci publik): kunci ini bisa dibagikan kepada siapa saja
-
Private key (kunci pribadi): kunci ini hanya boleh diketahui pemiliknya
Public key digunakan untuk mengenkripsi. Di sisi lain, private key digunakan untuk membuka hasil enkripsi tersebut. Jadi meski public key tersebar luas, hanya pemilik private key yang bisa membaca datanya.
Cara kerjanya seperti berikut:
-
Masing-masing pihak membuat sepasang public dan private key.
-
Public key dapat dipertukarkan secara bebas.
-
Pengirim mengenkripsi data menggunakan public key penerima.
-
Penerima membuka data tersebut menggunakan private key miliknya.
-
Jika penerima ingin membalas pesan, ia akan menggunakan public key pengirim, kemudian prosesnya terulang kembali.
Karena ada dua kunci dan proses matematis yang lebih kompleks, metode ini cenderung lebih aman tetapi lebih lambat. Jadi, enkripsi asimetris lebih sering dipakai untuk komunikasi yang butuh tingkat keamanan ekstra, seperti email bisnis, autentikasi sistem, atau transaksi yang melibatkan informasi penting.
Penerapan Enkripsi dalam Bisnis
Pada dasarnya, enkripsi ini sudah sangat dekat dengan kehidupan masyarakat modern. Namun dalam konteks bisnis, berikut beberapa contoh enkripsi yang kerap dijumpai:
1. Pengamanan Akses ke Website dan Platform Digital Perusahaan
Setiap perusahaan yang mengandalkan website atau aplikasi harus memastikan keamanannya dengan menggunakan teknologi HTTPS. Dengan sertifikat SSL/TLS, semua pertukaran data antara pengguna dan server terlindungi dari penyadapan.
Entah itu login karyawan, transaksi pelanggan, atau pengisian formulir di landing page, semua jadi lebih aman. Selain itu, HTTPS juga bisa meningkatkan kredibilitas bisnis di mata pengguna.
2. Perlindungan Komunikasi Internal dengan Aplikasi Chat Berbasis E2EE
Banyak perusahaan masih menggunakan grup chat untuk berbagi dokumen atau informasi sensitif. Dengan memilih aplikasi yang sudah mendukung enkripsi end-to-end, perusahaan memastikan percakapan internal, memo penting, hingga file penting tidak mudah diintip pihak luar.
3. Pengamanan Pertukaran Dokumen Penting Lewat Email Terenkripsi
Untuk dokumen legal, kontrak, atau data sensitif, perusahaan bisa memanfaatkan enkripsi PGP/GPG. Sistem ini memastikan hanya penerima yang punya kunci tertentu yang bisa membaca isi pesan. Cara ini sangat membantu untuk komunikasi dengan mitra bisnis atau bahkan konsultan hukum yang membutuhkan tingkat keamanan lebih tinggi.
4. Perlindungan Data Finansial dalam Proses Pembayaran
Transaksi keuangan perusahaan, seperti pembayaran vendor atau payroll karyawan wajib menggunakan saluran yang dilindungi enkripsi SSL/TLS. Dengan begitu, data rekening, kode verifikasi, hingga alur pembayaran tidak dapat disadap. Hal ini juga berlaku untuk perusahaan yang memanfaatkan aplikasi fintech atau payment gateway dalam operasionalnya.
5. Pengamanan Perangkat Kerja Karyawan
Laptop, ponsel, dan tablet yang digunakan untuk pekerjaan harus memiliki enkripsi perangkat otomatis. Ketika perangkat terkunci, semua data di dalamnya, mulai dari file proyek sampai email kantor tidak bisa diakses tanpa otentikasi. Ini sangat penting untuk mencegah kebocoran data saat perangkat hilang, dicuri, atau digunakan di area publik.
6. Pendukung Sistem Kerja Remote dengan VPN Perusahaan
Bagi karyawan yang bekerja dari luar kantor, penggunaan VPN dapat menciptakan koneksi terenkripsi ke jaringan internal perusahaan. Hal ini membuat akses ke server atau data pelanggan tetap aman meski karyawan bekerja dari Wi-Fi publik di kafe atau coworking space.
7. Penyimpanan Berbasis Cloud
Perusahaan yang menyimpan data di layanan cloud seperti AWS, Google Workspace, atau Azure perlu memastikan enkripsi di dua sisi, yakni saat data dikirim dan saat disimpan. Dengan enkripsi, file penting seperti laporan keuangan atau data pelanggan tetap terlindungi meski ada serangan ke infrastruktur penyedia layanan.
Wujudkan Ekosistem Kerja yang Aman dan Efisien Bersama Telkomsel Enterprise
Dengan menerapkan enkripsi di berbagai lapisan bisnis, perusahaan bisa meminimalkan risiko kebocoran, bahkan meningkatkan kepercayaan pelanggan. Namun, keamanan data tidak berhenti di enkripsi saja.
Perangkat operasional perusahaan yang digunakan karyawan juga perlu diawasi dan dilindungi, apalagi jika perangkat bisa dibawa pulang oleh karyawan. Di sinilah, peran Mobile Device Management dari Telkomsel Enterprise dapat menjadi solusi.
Melalui satu konsol terpusat, Anda bisa memantau ribuan perangkat, menegakkan kebijakan keamanan, melindungi data dari kebocoran, hingga memastikan setiap aplikasi dan perangkat tetap berada dalam kondisi aman.
Jika Anda ingin memperkuat pondasi keamanan perusahaan sekaligus menjaga efisiensi kerja tim, inilah waktu terbaik untuk memanfaatkan layanan Mobile Device Management. Segera hubungi Telkomsel Enterprise untuk informasi lebih lanjut seputar layanan ini.