Telkomsel | 13 Februari 2018
2 shares

                                              ‘Bantuternak’ Ajak Masyarakat
                                   Bantu Kembangkan Kondisi Peternak Sapi

 

Kondisi peternak di Indonesia, khususnya peternakan sapi akhir-akhir ini semakin memprihatinkan. Jumlah peternak sapi potong semakin berkurang karena mereka sulit memperoleh modal untuk membeli anakan. Jumlahnya pasokan daging lokal ini menyebabkan Indonesia harus mengimpor sapi untuk memenuhi kebutuhan daging sapi nasional. Bahkan di tahun 2016, Indonesia harus mengeluarkan anggaran hingga 1 triliun untuk impor sapi.

Belajar di Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada (UGM), Ray Rezky Ananda sadar betul akan kondisi tersebut. Ray bersama rekan-rekannya di UGM yaitu Hanifah Nisrina (Fakultas Kedokteran Hewan) serta Ayub dan Fata (Fakultas Teknik) kemudian tergerak untuk bersama-sama mencari solusi bagi para peternak sapi dengan memanfaatkan latar belakang pendidikan masing-masing untuk membuat startup bernama ‘Bantuternak’.

‘Bantuternak’ awalnya dikembangkan sebagai aplikasi digital yang menghubungkan peternak dengan pemodal. Melalui metode crowdfunding, tim dari UGM ini juga sekaligus mengajak masyarakat untuk menjadi pelopor perubahan khususnya untuk memperbaiki kondisi peternakan di Indonesia dengan menginvetasikan dana minimal Rp 10.000. Bantuan ini kemudian akan disalurkan ke peternak untuk membeli sapi serta pakan ternak.

Tak hanya membantu dari sisi pendanaan, ‘Bantuternak’ juga memberikan fasilitas pendamingan bagi peternak dalam proses penggemukan sapi selama 5 bulan. Sebagai pertanggungjawaban kepada investor, ‘Bantuternak’ juga menyediakan laporan pengumpulan transaksi dana dan perkembangan ternak sapi yang dibantu.

Berkat inovasinya dalam memanfaatkan teknologi untuk memberikan solusi kepada masyarakat, ‘Bantuternak’ berhasil menjadi salah satu TOP 20 kompetisi The NextDev 2017 dan berhak  mengikuti ‘The NextDev Academy’ di tahun 2018. Program ini  merupakan program lanjutan bagi para finalis The NextDev, yang ditujukan untuk meningkatkan skalabilitas social technopreneurs melalui pengembangan diri dan peningkatan kemampuan di bidang research and customer development, design sprint, branding, product development, serta business model and bootstrapping.


Related Blogs