Telkomsel Hadirkan BTS Go Green Terbanyak di Asia

Pemanfaatan Teknologi Power Supply Ramah Lingkungan
Telkomsel Hadirkan BTS Go Green Terbanyak di Asia

 

Jakarta, 18 Februari 2010

Telkomsel secara resmi mengoperasikan Base Transceiver Station ramah lingkungan (BTS Go Green) di Pulau Senayang, Kepulauan Riau yang menjadikan Telkomsel sebagai operator selular dengan BTS Go Green terbanyak di Asia dengan 132 BTS di seluruh Indonesia.

Penggunaan sumber energi alternatif kini menjadi salah satu upaya yang dilakukan operator selular untuk menjamin ketersediaan power supply yang dibutuhkan untuk mengoperasikan BTS. Terlebih lagi Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat luas dengan panjang seperdelapan bentangan dunia dan tiap wilayah memiliki variasi kontur geografi yang berbeda-beda.

GM Radio Operation & Power System Telkomsel Iwan Chairul mengatakan, “Sebagai upaya menjaga kinerja pelayanan dan kinerja perusahaan ke depan, kami terus melakukan riset dan pengembangan penggunaan sumber energi alternatif yang ramah lingkungan. Untuk 132 BTS Go Green yang telah beroperasi, kami memanfaatkan tenaga matahari atau solar cell, sehingga kebutuhan pasokan energi untuk mengoperasikan BTS tetap terjaga.”

   

BTS Go Green: Petugas Telkomsel sedang mengoperasikan Base Transceiver Station ramah lingkungan (BTS Go Green) yang memanfaatkan tenaga matahari (solar cell) di Pulau Senayang, Kepulauan Riau. Dalam upaya pengembangan penggunaan sumber energi alternatif ramah lingkungan, Telkomsel telah mengoperasikan 132 BTS Go Green di seluruh Indonesia, yang menjadikan Telkomsel sebagai operator selular dengan BTS Go Green terbanyak di Asia.

BTS Go Green Telkomsel tersebar di berbagai wilayah di seluruh Indonesia, yakni Sumatera (33 BTS), Jawa (22 BTS), Bali Nusa Tenggara (23 BTS), Kalimantan (18 BTS), dan Sulawesi Maluku Papua (36 BTS). Keseluruhan BTS tersebut memperoleh sumber energi ramah lingkungan sesuai dengan standar Telkomsel yang biasa digunakan di industri telekomunikasi selular, yakni sekitar 0,115 MegaWatt atau hampir setara dengan 100 genset konvensional berkapasitas 20 kVA.

Di samping menggunakan solar cell, Telkomsel juga mengimplementasikan teknologi fuel cell dengan memanfaatkan bahan bakar hidrogen di wilayah Sumatera. Keunggulan penerapan sumber energi alternatif fuel cell antara lain tidak bising karena tidak terdapat komponen bergerak, tidak polutan (tidak beracun dan tidak berbau) karena zat buangan yang ditimbulkan adalah H2O alias unsur air, dan memiliki efisiensi proses yang jauh lebih baik dibanding dengan sistem konvensional.

Menyadari keterbatasan sumber energi dan mencermati tren penggunaan energi alternatif, tren teknologi dunia, serta perlunya kesadaran bersama untuk ikut melestarikan alam, Telkomsel terus mencari terobosan penerapan penggunaan teknologi yang ramah lingkungan dan tidak menimbulkan polusi, baik polusi yang berupa zat kimia berbahaya, suara bising dan atau bau tak sedap. Untuk itu, ke depannya Telkomsel akan mengembangkan BTS dengan sumber energi alternatif lainnya yang sesuai dengan kondisi geografis Indonesia, antara lain BTS micro hydro yang memanfaatkan aliran sungai di sekitar BTS. Selain itu, Telkomsel juga akan mengembangkan BTS yang memanfaatkan bahan bakar organik (biofuel).

“Telkomsel menghadirkan solusi yang tepat dalam hal penyediaan sarana telekomunikasi beserta power supply-nya, sehingga seluruh masyarakat hingga pelosok dapat menikmati sarana komunikasi dan terbebas dari keterisolasian. Pemanfaatan sumber energi alternatif ramah lingkungan ini juga sekaligus merupakan bentuk dukungan kami terhadap imbauan pemerintah untuk melakukan efisiensi penggunaan listrik yang kini terasa semakin langka,” pungkas Iwan.

Tag :